Satu Paragraf Untuk Bidadari ku

Senin, 17 November 2008

Hilangkanlah rasa kesepianmu dengan menikah…!

Bidadariku, inilah salah satu misi hidupku sebagai seorang pemuda, sebagai seorang jundullah yang merindukan hadirnya sang bidadari, untuk mendapatkan ridho Alloh swt.

Bidadariku, sejak awal penciptaan manusia di bumi, kehidupan ini ternyata dimulai dari dua insan yang sempat merasakan indahnya surga (adam dan hawa). Adalah sebuah fitrah manusia untuk hidup berpasang-pasangan. Untuk saling menyemangati agar bisa merasakan kembali indahnya surga, sebagai imbalan bagi siapa yang mengharapkan ridho Alloh swt.

Kepada bidadariku yang selalu sabar menunggu. Maafkan aku yang telah membuatmu menunggu lama diri ini untuk segera datang meminangmu. Bukan maksud untuk berlama-lama atau mengulur waktu dan bukan bermaksud untuk tidak menyegerakan sunnah baginda rasul, tapi… sabarlah. Sebentar saja. Bidadariku, sebentar… saja.
Aku sedang mempertegap langkahku agar terlihat gagah berjalan menuju pelaminan berdampingan dengan dirimu....

Rifki ‘birrul waalidain’
Ukhuwah, 21 agustus 2007, 00.00 wib.
Direvisi di wisma KAHFI, 17 november 2008, 21.49 wib

READ MORE - Satu Paragraf Untuk Bidadari ku

Sekuntum mawar di celah lumpur hitam

Sekilas jika kita coba memperhatikan mawar yang ada di depan halaman rumah. Tidak ada yang istimewa, biasa-biasa saja. Hanya mahkota bunganya yang lebih kelihatan menarik bagi mata untuk memandangnya, sekedar untuk berucap kalimat tasbih memuji Sang Pencipta. Sudah, itu saja.

Tapi jika kita memperhatikan, kenapa sekuntum mawar yang merah merona dan wangi semerbak bisa mekar dengan indahnya dari celah-celah tanah hitam yang kotor dan bau? Kenapa keindahan itu muncul dari tanah yang kotor, hitam, dan bau? Keajaiban penciptaan.


Bacalah. Bacalah dengan menyebut nama Robbmu yang telah menciptakan mu.


Perumpamaan bunga mawar, seperti itulah orang yang memiliki ilmu dan amal. Ilmunya akan menjaga amalnya dari pengaruh luar yang dapat merusak. Serta amalnya akan memperkokoh keilmuannya. Ilmu ibarat duri dan amal ibarat kelopak bunga yang indah.


Amal akan bisa menjadi kenyataan ketika hati telah memutuskan, dan hati dapat memutuskan dengan benar ketika akal telah mengolah data-data yang berguna untuk melakukan apa yang akan dikerjakan/ amalkan. Dan akal akan memberikan input yang benar ketika akal kaya akan ilmu-ilmu yang benar. Semua akan saling berkaitan dan mewarnai.


Ketika amal dan ilmu telah menyatu dalam kehidupan manusia. Hiruk pikuk kepentingan dunia semata tidak ada pengaruh baginya. Malah akan menjadi pemacu diri untuk terus mempertajam ilmu dan memperindah amal.


Sekotor-kotornya tanah tidak akan menjadikan hilangnya keindahan sekuntum bunga mawar. Sehancur-hancurnya zaman tidak akan menjadikan hilangnya militansi amal seorang aktivis da’wah di muka bumi.
Wallahua’lam
Rifki ‘birrul waalidain’
17 november 2008, senin, @ wisma KAHFI, 21.16 WIB

READ MORE - Sekuntum mawar di celah lumpur hitam

da'i yang kuat

Jumat, 07 November 2008

Semut, makluk kecil yang menikmati tubuhnya yang “kecil” tanpa mengingkari kenikmatan yang sudah diberikan oleh sang yang Maha Pemberi. Selalu bergerak kemanapun ia suka tanpa menganggap apaun yang menghalanginya sebagai penghalang baginya. Bahkan apapun benda yang menghalanginya pasti dijadikan tempat untuk melangkahkan kakinya yang kecil tersebut untuk selalu bergerak. Kita halangi dengan tangan kita, dia berjalan di atasnya! Dihalangi dengan buku, dia berjalan di atas buku! Dihalangi dengan padang rumput yang luas, dia jadikan rumah bahkan istana disana, di padang rumput tersebut.

Tabiat dan tujuan dari seekor semut cuma satu. Mencari gula. Semut tak akan berhenti bergerak, berjalan, mondar mandir, merayap, memanjat sampai ia mendapatkan apa yang dicari. Tidak Cuma itu yang bisa kita lihat dari seekor semut. Setelah si semut mendapatkan secuil gula, tanpa rasa rakus ia langsung membawa hasil penemuannya tersebut ke sarangnya, untuk dinikmati bersama-sama semut yang lain, sekali lagi tanpa rakus dan mementingkan keuntungan diri sendiri.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Kuasa atas apapun di alam semesta ini. Semoga kita bisa membaca tanda-tanda/ ayat-ayat yang bertebaran di muka bumi ini. Semut salah satunya. Jika kita bisa mengambil pelajaran dari small teacher (semut) ini, maka kehidupan seorang anak manusia (da’i) tidak ubahnya sekor semut kecil yang tinggal di “padang rumput belakang rumah”. Tujuan, winning goal harus kita miliki. Jika semut tujuan hidupnya adalah secuil gula, maka manusia hanyalah Allah SWT. Kegagalan-kegagalan yang ditemui dalam kehidupan adalah sebuah jalan baru yang mau tidak mau harus dilewati (seperti semut tadi yang selalu menjadikan apapun yang menghalanginya sebagai tempat melangkahkan kaki kecilnya yang mungil) dan dinikmati (seperti semut yang membangun istananya di padang rumput) untuk mencapai tujuan hidup.

Winning team yang dimiliki semut berhasil menjadikan semut menguasai tiap jengkal tanah yang anda di permukaan bumi, bahkan menjadi populasi terbanayak di bumi melebihi manusia. Manusia (da’i) juga harus memiliki al-jama’atu tastahiqqun najah (winning team), biar fitnah terhadap para da’I dan Islam tidak lagi dominan di telinga kita. Selalu bergerak, bergerak, dan bergerak dengan team yang kuat. Sebuah kegagalan hanyalah ibarat buku yang mengahalangi semut tadi. Coba kita bandingkan luas buku dengan luas permukaan bumi! Kecil. Jadi kegagalan hanyalah sebuah hal kecil yang menghalagi kita dari kesuksesan untuk mencapai kesuksesan yang terbentang luas.

Masih banyak lagi yang dapat kita ambil dari seekor semut. Ini menjadi sebuah bukti jika tidak ada sebuah penciptaan yang sia-sia. Semua tergantung bagaimana cara berfikir dalam menyikapai keajaiban sebuah penciptaan.

Pilihan dalam hidup bagi seorang da’i hanya ada satu. Menang atau menang! Salah satu yang menjadi syarat datangnya kemenangan tersebut adalah winning value, nilai-nilai apa yang membuat kita berhak mendapatkan kemenangan tersebut. Dan semoga kita menang sebagai penghuni syurganya Allah SWT yang Maha Agung yang sudah merancang kehidupan ini untuk kita jalani dan hadapai tantangan-tantangan yang disuguhkan kepada hamba-hambanya yang kuat.

Rabu, 8 Agustus 2007@ taman FIBUI, 18.07 WIB
direvisi Jum’at,7 November 2008 @ wisma KAHF, 11.06 WIB
READ MORE - da'i yang kuat

surat cinta untukmu... ukhti....

Senin, 03 November 2008

Kriiiing, kriiiiing,kriiiiing, pak pos lewat tepat di depan sekumpulan akhwat yang sedang LIQO’ ( ngaji ), tiba-tiba pak pos menghampiri mereka
“assalamu’alaikum”
“waa’alikumussalam” jawab akhwat serempak
“afwan, ukhti… ini ada surat untuk mujahidah” kata pak pos
“ooooh… syukron pak”
“ya.. afwan” jawab pak pos singkat, sesingkat beliau mampir ke tempat itu
“assalamu’alaikum” pamit pak pos
“wa’alaikum salam” jawab jilbaber serempak

tak sabaran merekapun membuka surat yang baru saja di terimanya
bereweeeek, sebuah amplop berwarna pink di sobek, lalu seorang murobbiyah pun membacanya, dan mutarobbbiyah khusyu mendengarkannya

“ assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh “ seuntai kata dari surat itu mulai di baca
“wa’alaikum salam warahmatullahi wabaraktuhu” jawab jilbaber lagi-lagi kompak
“ukhti… yang di nantikan syurga “ satu persatu murobbiyah mulai mengalirkan kata-kata surat yang di bacanya

 Ukhti…Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho tuhanmu,mungkinkah besarnya kerudungmu hanya di gunakan sebagai fashion atau gaya jaman sekarang, atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang di idamkan bahkan bisa jadi kierudung besarmu hanya akan di jadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan di kagumi oleh banyak ikhwan

 Ukhti…tertutupnya tubuhmu Tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antum sendiri, coba perhatiukan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sadari melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu

 Ukhti…lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suara antum sama dengan lembutnya ksasihmu pada sauadaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu

 Ukhti…lembutnya Parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa seklaipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

 Ukhti…Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju tuahnmu dengan bangun di tengah malam dan di temani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan di nina bobokan dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.

 Ukhti…Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang entum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang snagat mengerikan yaitu maksiat

 Ukhti…cantiknya wajahmumu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antum sendiri, pernahkah antum menyadari bahwa kecantikan yang antum punya hanya titpan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antum masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu

 Ukhti…tundukan pandanganmu yang katuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk beranui menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuuh yang akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu,

 Ukhti…tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu teerhadapa warga sesamamu mu yang tertindas di palestina, pernahkah antum menangis ketika mujhaid-mujahidah kevil tertembak mati, atau dengan cuek bebk membiarkan begitu saja, pernahkah antum merasakan bagaimana rasanya baerjihad yang di lakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan

 Ukhti…lirikan mamatamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat, coba antum perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman,saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan manisny islam dan iman mereka belum merasakan apa yang antum rasakan, bisa jadi salah satu dari kleuargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berprlikaku binatang yang tak karuan, sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang kamu rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemulyaan islam

 Ukhti…tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada sang khalolikmu, antum adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengiontai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul di jaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakuakn sejak dari sekarang, kapan lagi coba….

 Ukhti…Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keleuargamu sendiri, masih kah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah di raih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas di tas rata-rasat akhwat yang lain, sesombong itukah haitmu, lallu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu

 Ukhti…rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infakmu ke mesjid atau mushola, sadarkah antum kalo kotak-kotak nongkrong di masjid masih terliat kosongdan menghawatirkan, tidakkah antum memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, maukah antum di beri rizki sepelit itu.

 Ukhti…rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunanah senin kamis yang antum laksanakan , kejujuran hati tidak bisa di bohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksankan tapi, semanga tr uhani tanpa di sadari turun drastic, puasa yaumul bith pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang di rasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum, makanan fisik yang antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi


 Ukhti…manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kaishmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum lewati, sikap ramahmu pada orang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuex dan menyebalkan, kalau itu kenyataanya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi… antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memrlukan dakwah

 Ukhti…rajinnya shalat malammu tidak menjamin keistiqomahan seperti rosulullah sebagai panutanmu,

 Ukhti…ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang kholikmu, masihkah antum senang bermanjaan dengan tuhanmu dengan shalat duhamu, shalat malamu?

 Ukhti…dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang mujahid akan segara menghampirimu

 Ukhti…masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih teringiang sampai saat ini bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik, jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu

 Ukhti…Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga rabbmu.maka, tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu

 Ukhti…muhasabah yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang di lakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antum tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhalk busuk mu di lupakan, kenapa muhasabah tidak di jadikan sebagai moment untuk perbaikan diri bukankah akhwat yang hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik

 Ukhti…pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa yang antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu inging mencari istri yang solehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah

 Ukhti…apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum,seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv yang tidak karuan dan hanya kan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa Bantu o0rang tua, kapan akan menjadi anak yang biruwalidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan, mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah,

 Ukhti…apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasa n belaka karena merasa berkerudung besar la

 Ukhti… hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang laing, kadang orang lain akan mempunyai persepsi di sama ratakan antara akhwat yang sautu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan akhlak maka akan merusak citra akhwat yang lain

 Ukhti…dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan brandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan itri yang solehah, siapkah antum sekarang menjadi istri solehah yang selalu di damba-dambakan oleh semua orang

Selesai membaca, tak terasa murobbiyah dan mutarobbiyah pun mengeluarkan butiran-butiran halus dari matanya, mereka menangis, meratapi dan muhasabah bersama dalam liqo’atnya
READ MORE - surat cinta untukmu... ukhti....

wanita itu mutiara

Woman was made from the rib of man, She was not created from his head to top him, Not from his feet to be stepped upon, She was made from his side to be close to him, From beneath his arm to be protected by him, Near his heart to be loved by him.

Bagaimana perasaan seorang pria jika dikelilingi banyak wanita? Jika pertanyaan itu disodorkan kepada saya, maka ungkapan ?bangga? nampaknya cukup mewakili perasaan saya. Saya senang setiap hari dikelilingi wanita cantik, shalihah pula. Dan tentu pada saat itu saya semakin merasa menjadi ?pangeran?. Ups, jangan curiga dulu, karena wanita-wanita cantik nan shalihah yang saya maksud adalah istri dan dua anak saya yang keduanya ?kebetulan? wanita. Insya Allah.

Tidak hanya itu, sebelum saya menikah, saya juga lebih banyak disentuh oleh wanita, yakni ibu karena semenjak usia enam tahun saya memilih untuk ikut ibu saat ia bercerai dengan ayah. Sebuah naluri kedekatan anak terhadap ibunya yang tidak sekedar karena telah menghisap ratusan liter air susu ibunya, melainkan juga ikatan bathin yang tak bisa terpisahkan dari kehangatan yang senantiasa diberikan seorang ibu terhadap anaknya.

Karena itulah, dalam hidup saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya dapat mengecewakan dan melukai seorang wanita. Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya. Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya. Meski demikian, tidak sedikit pria harus membiarkan wanita kecewa demi meluruskan kesalahan itu, toh setiap pria yang melakukan itu pun sangat yakin bahwa kekecewaan itu hanya sesaat kerena selanjutnya akan berbuah manis.

Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air. Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut, jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman. Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.

Wanita itu mutiara. Orang perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya. Karenanya, melihat dengan tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata. Orang perlu berjuang menyusur ombak, menahan arus dan menantang semua bahayanya untuk bisa meraihnya. Dan tentu untuk itu, orang harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara indah itu.

Wanita itu separuh dari jiwa yang hilang. Maka orang harus mencarinya dengan seksama, memilihnya dengan teliti, melihat dengan hati-hati sebelum menjadikannya pasangan jiwa. Karena jika salah, ia tidak akan menjadi sepasang jiwa yang bisa menghasilkan bunga-bunga cinta, melainkan noktah merah menyemai pertikaian. Ia tak akan bisa menyamakan langkah, selalu bertolak pandang sehingga tak memberikan kenyamanan dan keserasian. Ia tak mungkin menjadi satu hati meski seluruh daya dikerahkan untuk melakukannya. Dan yang jelas ia tak bisa menjadi cermin diri disaat lengah atau larut.

Wanita memiliki kekuatan luar biasa yang tak pernah dipunyai lawan jenisnya dengan lebih baik. Yakni kekuatan cinta, empati dan kesetiaan. Dengan cintanya ia menguatkan langkah orang-orang yang bersamanya, empatinya membangkitkan mereka yang jatuh dan kesetiaannya tak lekang oleh waktu, tak lebur oleh perubahan.

Dan wanita adalah sumber kehidupan. Yang mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kehidupan baru, yang dari dadanya dialirkan air susu yang menghidupkan. Sehingga semua pengorbanannya itu layak menempatkannya pada kemuliaan surga, juga keagungan penghormatan. Tidak berlebihan pula jika Rasulullah menjadi seorang wanita (Fathimah) sebagai orang pertama yang kelak mendampinginya di surga.

Untung saya bukan penyanyi ngetop yang menjadikan wanita dan cintanya sebatas syair lagu demi meraup keuntungan. Sehingga yang tampak dimata hanyalah wanita sebatas bunga-bunga penghias yang bisa dicampakkan ketika tak lagi menyenangkan. Kebetulan saya juga bukan bintang sinetron yang kerap diagung-agungkan wanita. Karena kalau saya jadi mereka, tentu ?kebanggaan? saya dikelilingi wanita cantik bisa berbeda makna dengan kebanggaan saya sebagai seorang yang bukan siapa-siapa.

Bagusnya juga wanita-wanita yang mendekati dan mengelilingi saya bukanlah mereka yang rela diperlakukan tidak seperti bunga, bukan selayaknya mutiara dan tak selembut sutra. Bukan wanita yang mencampakkan dirinya sendiri dalam kubangan kehinaan berselimut kemewahan dan tuntutan zaman. Tidak seperti wanita yang rela diinjak-injak kehormatannya, tak menghiraukan jerit hatinya sendiri, atau bahkan pertentangan bathinnya. Juga bukan wanita yang membunuh nuraninya sendiri sehingga tak menjadikan mereka wanita yang pantas mendapatkan penghormatan, bahkan oleh buah hatinya sendiri.

Dan sudah pasti, selain tak ada wanita-wanita macam itu yang akan mendekati lelaki bukan siapa-siapa seperti saya ini, saya pun tentu tidak akan betah berlama-lama berdekatan dengan mereka, apalagi bangga. Semoga ?
READ MORE - wanita itu mutiara

saat kita sendiri

Kahfi baru saja melangkahkan kaki keluar dari lingkungan kampus, menuju ke tempat dimana ia dapat melepaskan semua penatnya (kos-an). Sepanjang jalan menuju tujuannya, terjadi sesuatu yang indah dalam qalbunya. Tubuhnya yang terasa penat serta kepala yang terasa berat tidak mampu menghentikan gerak lintasan dalam qalbunya-qalbu yang selalu terjaga dengan nilai-nilai bernuansa ruhiyah.

"Rabb...inikah yang dirasakan oleh para pendahulu kami...inikah situasi yang telah Engkau janjikan untuk kami" benaknya.

Apa yang Kahfi lakukan hari ini tidak jauh berbeda dengan tiga hari sebelumnya. Menyelesaikan surat-surat ijin untuk tugas akhir akedemiknya. Birokrasi yang ia hadapi serta waktu yang begitu terbatas memaksanya untuk menyediakan keikhlasan dosis tinggi dalam hatinya. Apa yang dihadapinya sebetulnya tidak dirasakan sendiri olehnya, inipun dirasakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Hal inilah yang sedikit banyak membuat ia merasa malu untuk bersikap lemah.

Taushiah pun mengalir deras untuk dirinya sendiri.

Rasa malu sempat hinggap dihatinya, ketika teringat dengan nasihat-nasihat yang selalu dipegangnya selama ini. Tidak sepatutnya semua aktivitas yang ia lakukan menjadikan ia melupakan akan makna dibalik ini semua. Apalah artinya prestasi bagus, harta duniawi yang melimpah serta pujian dari manusia, jika itu semua tidak membuat kita semakin pintar dalam mengingat-Nya. Apalagi jika dalam menyelesaikan semua persoalan duniawi tersebut kita hanya mengandalkan rasio kita yang terbatas. Teringatlah ia akan sirah-sirah nabawiyah yang dibacanya, yang membuktikan bahwa hitungan matematis tidak berlaku ketika dihadapkan pada kekuatan keimanan.

Qalbunya pun meminta untuk terus bermuhasabah...

"Allah...di sore ini kuhitung amalku...
yang telah kulakukan hari ini...
Terimalah kebaikanku..
Hapuskan dosaku...
Ya Allah..kabulkanlah doaku..."

Hati terdalamnya diam-diam melantunkan bait-bait Suara Persaudaraan. Suasana "kesendirian" yang ia alami menjadikan ia harus menyediakan kesabaran untuk selalu menyemangati diri sendiri. Lain rasanya ketika saudara-saudaranya masing sering berada di sisinya. Akan selalu tersedia sambutan hangat, rangkulan penyemangat, serta taushiah padat yang akan ia dapatkan (baik ia meminta ataupun tidak). Kini kedewasaannya benar-benar teruji. Seakan-akan situasi ini adalah momen untuk membuktikan apakah ia memahami dengan benar semua materi-materi halaqoh yang ia dapatkan.

Langkahnya-pun semakin cepat seiring dengan langit yang semakin gelap. Teringat ia akan amal yaummi yang belum ia sempurnakan..
" Ya Allah...belum satu juz..!!

(jundihasan)
READ MORE - saat kita sendiri

jika aku jatuh cinta

Cinta. Sebuah kata singkat yang memiliki makna luas. Walaupun belum teridentifikasi secara pasti, namun eksistensi cinta diakui oleh semua orang. Al-Ghazali mengatakan cinta itu ibarat sebatang kayu yang baik. Akarnya tetap di bumi, cabangya di langit dan buahnya lahir batin, lidah dan anggota-anggota badan. Ditujukan oleh pengaruh-pengaruh yang muncul dari cinta itu dalam hati dan anggota badan, seperti ditujukkanya asap dalam api dan ditunjukkanya buah dan pohon.

Cinta sejati hanyalah pada Rabbul Izzati. Cinta yang takkan bertempuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin. Tapi cinta itu tentu porsinya tidak melebihi cinta kita pada Allah, karena Allah mengatakan, “Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjiha di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

Prestasi kepahlawanan para pejuang tidak terlepas dari pengaruh cintanya seorang pemuda kepada pemudi. Umar bin Abdul Aziz berhasil memenangkan pertarungan cinta sucinya kepada Allah dari pada cinta tidak bertuannya kepada seorang gadis. Tidak ada yang salah pada cinta. Berusahalah menempatkannya pada tempat, waktu dan sisi yang tepat.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(Yesi Elsandra, special untuk yang saling mencintai karena-Nya)
READ MORE - jika aku jatuh cinta