Tampilkan postingan dengan label Aku Untuk Negeriku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Untuk Negeriku. Tampilkan semua postingan

UNDP Response for West Sumatera Earthquake

Jumat, 23 Juli 2010


There is an opportunity now to support people living in West Sumatra to rebuild their homes and communities with safety as the top priority. Following two devastating earthquakes, officials, village leaders, mothers, fathers, nurses, teachers—people from all walks of life—are examining how to reduce the impact of disasters on their lives.
Restoring and boosting the capacity of local and regional government is critical, not only because they are responsible for managing the massive recovery effort now, but also because they ensure building and zoning rules are followed. Local government can also reach out systematically to communities so that they get the information and resources they need to build back better. UNDP is focused on providing knowledge, expertise and essential equipment to assist local and regional government in meeting these challenges.
READ MORE - UNDP Response for West Sumatera Earthquake

payakumbuh dari ketinggian..!!

Minggu, 26 April 2009

Dari ketinggian...
Warna hijau sangat dominan di tanah Payakumbuh ini...

Dari ketinggian...
Terlihat keteraturan peradaban yang coba di perlihatkan dari alur-alur jalan yang rapih...

Dari ketinggian ini...
Kita bisa tahu, Payakumbuh itu indah...
Sama seperti yang kita banggakan kepada orang banyak di rantau...

Dari ketinggian yang sangat tinggi ini...
Akan kah lahir orang-orang yang mempunyai cita-cita tinggi terhadap tanah kelahirannya...

Dari ketinggian yang tak terbayangkan ini...
Akankah indahnya hijau itu akan hilang dari balik kelopak mata kita...

Setelah kita berada beberapa saat di ketinggian ini...
Dan kita melihat dengan jelas dari ketinggian ini...
Akankah ada rindu dihati membangun kampung sendiri,
Ia mempunyai cita rasa yang tinggi dalam membangun cerita-cerita indah di benak para penghuni negeri ini...
Termasuk kita sendiri yang sekarang berada di ketinggian...

Dari ketinggian...
Mari kita turun kembali membangun nagari yang sudah tidak sabar menanti si
'paga nagari'...
Untuk menjaganya, bukan dari ketinggian...
Tapi dari kedekatan hati dan apa yang ada di dalamya... cinta...
READ MORE - payakumbuh dari ketinggian..!!

Kisah Sukses Mantan Seorang Petugas Keamanan

Selasa, 31 Maret 2009

Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.

Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.

Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.
>
Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.

Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk
memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.

Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.

Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah,
membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.

Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika
beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini.

“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.

Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.

Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.

“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang
telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”
READ MORE - Kisah Sukses Mantan Seorang Petugas Keamanan

Membangun Stasiun Kenangan

Kamis, 22 Januari 2009

Proses! Itulah yang sedang dihadapi oleh bangsa tercinta ini.

Kenapa butuh proses?

Sepenting apakah proses tersebut?

Kenap proses lebih penting dari sebuah hasil yang besar yang datang secara instan?

Banyak pakar berkomentar: “ini adalah proses menuju bangsa yang lebih bermartabat!” ; “mau tidak mau proses ini harus kita hadapi sebagai bangsa yang terus berkembang menyusul ketertinggalan kita sebagai bangsa besar selama ini, untuk menjadi Negara impian!”. Tapi bukan republic mimpi milik pakar komunikasi yaitu uda Efendi Gozali.

Dalam membangun Negara besar, ada tahapan-tahapan yang harus dilewati sebelum mendapatkan visual arsitektur keindahan Negara Indonesia yang diimpikan. Sama halnya dengan membangun sebuah struktur gedung yang sudah dirancang oleh para arsiteknya untuk dijadikan sebuah hasil karya yang indah. Bangunan tidak akan jadi sebuah bangunan meskipun semua yang dibutuhkan lengkap semuanya. Seperti: bahan, pekerja, biaya, dan sarana. Tapi tidak ada waktu untuk melaukan proses pembangunan. Maka semua yang ada tersebut akan menjadi terbuang percuma dan membusuk tidak bisa di gunakan. Begitu juga dengan sebuah bangsa yang kaya ini.

Dan setelah kita merebut dan memiliki waktu untuk melakukan proses kita juga harus bisa menentukan marhala marhala atau tahapan-tahapan dalam membangun, untuk mendapatkan hasil yang di inginkan dan dalam mengefisienkan waktu agar produktif. Hukum alam sangat dekat sekali dengan apa yang akan kita lakukan: sebelum berlari seseorang akan melakukan langkah pertama, sebelum menulis sebuah buku best seller pasti dimulai dengan menuliskan sebuah kata, sebelum mendapatkan gelar doctor atau professor seseorang pasti memulai dengan duduk di bangku sekolah dasar, dan sebelum menjadi tua orang pasti melewatkan masa-masa kecilnya. Nah begitu juga dalam membangun sebuah bangunan, apalagi membangun sebuah Negara. Semuanya dimulai dari yang paling bawah. Sebelum membangun pondasi, tanah harus dipadatkan terlebih dahulu. Setelah itu baru bisa dibangun pondasi. Sebelum membangun lantai dua, tentunya harus dibangun dulu lantai satu. Demikian seterusnya. Dimulai dari hal-hal yang paling kecil (bawah) kemudian terus berprose sampai pekerjaan finishing. Begitu juga ketika membangun sebuah Negara besar yang bernama Indonesia.

Terbayang bagi kita sebagai pagar bangsa (red: pemuda), kebesaran dan luasnya Indonesia dari sabang sampai merauke. Semuanya tidak akan mungkin langsung makmur menjadi bagian dari sebuah bangsa yang bermartabat dikemudian hari nya dalam waktu yang sikat. Tidak akan langsung makmur setelah teriakan reformasi oleh mahasiswa dan masyarakat buruh atau miskin kota tahun 1998 dulu, yang mengharapkan perubahan langsu setelah soeharto ‘KO’. Tidak. Sekali-kali tida.

Bukan berarti kita mencoba memancung semangat mahasiswa yang hoby dan gila aksi dijalan ibu kota untuk menuntut perubahan, atau juga semangat para buruh yang menuntut haknya, dan tidak juga 100% menyalahkan pihak eksekutif dan legislative Negara ini dalam usaha-usahanya dalam melakukan perubahan walau kecil dan tidak terasa bagi rakyat, dan juga tidak mendurhakai para abdi pendidikan yaitu guru-guru dan dosen yang selalu membina (mentarbiyah) daun muda negeri ini. Tapi hanya sedikit memberikan sentilan agar penghuni rumah (red. Indonesia) ini terbangun dari kasurnya yang empuk dan membesihkan rumahnya yang seperti kapal pecah.

Sudah dijelaskan, tidak mungkin kita membangun sebuah bangsa pencakar langit tetapi tidak dimulai dari bawah (pondasi/ keluarga) dan dari bawahnya (pemadatan tanah/ diri sendiri)! Struktur terkecil sebuah Negara adalah keluarag dan keluarga terdiri dari individu-individu yang berbagai karakter. Jadi benar kata kutipan nasehat dari Aa Gym, mulai lah dari diri sendiri! Ternyata memulai dari diri sendiri merupakan usaha yang paling besar dalam memabangun bangsa ini menjadi hasil karya yang fenomenal.

Jadikan setiap detik waktu dalam kehidupan kita merupakan bagian dari peran kita dalam melakukan proses hukum alam yang tidak dapat diganggu gugat! Sehingga setiap kita berhak menyatakan dirinya sebgai pahlawan sejati yang selalu memberikan makna dalam halte-halte kenangan dalam kehidupan sebagai seorang bangsa!

Kalo boleh jujur. Setiap individu dinegeri ini berpeluang menjadi sekuntum bunga yang memberikan keindahan pada setiap mata yang memandangnya, dengan warna-warni mahkota yang indah dan semerbak wanginya diantara hitamnya tanah yang bercampur lumpur yang tidak wangi. Benih-benih bunga tersebut sangatlah banyak, namun terkubur oleh tanah hitam. Diperlukan sedikit usaha untuk menyiramnya dan benih itupun pasti akan muncul kepermukaan kemudian menampakkan kuncupnya dan terus mengembang di taman bangsa yang tercinta ini.

Siapakah dari kita yang akan kembang dan menebarkan wanginya terlebih dahulu?
Saya akan jawab,”sayalah kembang yang pertama kali mewangikan taman surga dunia ini!”.

Rifki Birrul Waalidain
@ ruang kulia, gedung B,lantai 2. Jam 17.45, 2 mei 2008
“ikatlah ilmu dengan menuliskannya”
Rifki_payobadar@yahoo.com
READ MORE - Membangun Stasiun Kenangan

Mendambakan rumah impian

Selasa, 20 Januari 2009

Rumah!

Tempat yang sangat pribadi, dimana sipemiliknya bebas melakukan ekspresi semaunya. Sehingga apa saja yang terdapat di dalamnya sudah sewajarnya hanya diketahui oleh sipemilik atau sipenghuni! Mulai dari hal-hal yang kecil sampai yang paling besar. Mulai dari merek sabun mandi yang ada di kamar mandi sampai mobil BMW yang sedang terparkir di depan rumah dengan konsep minimalis namun harga maxis!

Dilapangan, rata-rata penghuni hanya memperhatikan apa saja yang ada di dalam rumah atau yang ada di sekitar rumah tapi sangat sedikit pemilik rumah yang mengerti atau paham bagaimana dan seberapa kuat struktur rumah tempat mereka tinggal dibangun. Jadi, segala sesuatu ada ilmunya. Tanpa tau bagaimana dan seberapa kuat struktur rumah dibangun maka kita tidak akan tahu kapan akan merekonstruksi ulang minimal merenovasi dan merawat tempat kita bernaung!


Jika sebuah rumah terdiri dari sekian banyak bahan yang disatu padukan sehingga mejadi satu kesatuan struktur rumah sehingga bisa berdiri kokoh dan stabil (Σv=0, Σh=0, Σm=0), lalu bagian struktur mana yang paling berperan agar bangunan tetap stabil? Dan jika rumah (Indonesia) terdiri dari sekian banyak suku, karakter, dan perbedaan umur (pemuda, anak-anak, orang tua) disatupadukan dengan kebhineka tunggal ika-an menjadi suatu tatanan struktur kenegaraan yang bermartabat hingga pada akhirnya bisa berdiri kokoh dan stabil, lalu bagian manakah yang paling berperan untuk menjaga agar struktur “bangunan” ini tetap stabil?
Sebelum dijawab…!

Ada sebuah analogi atau perumpamaan yang bisa sedikit membantu untuk menjawab pertanyaan: mana yang memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan masa depan bangsa ini? Jika suku cadang motor anda rusak, apa yang akan anda lakuakan? kalo anda boleh memilih pasti anda memilih mengganti dengan yang baru, jika yang rusak diperbaiki pasti ada sedikit keragu-raguan apakah bisa tahan lama atau tidak.

Jika genteng rumah anda bocor saya yakin anda akan lebih memilih menggantinya dengan yang baru dari pada menambal dengan lakban. Jika ban motor anda pecah pasti anda akan memilih untuk mengganti dengan yang baru (kalau anda punya uang banyak), sedangkan jika di tambal pasti meninggalkan bekas pada bagian yang ditambal dan umurnya tidak seawet yang baru.

Terakhir, jika cat rumah anda sudah kusam, pasti anda berusaha menutupinya dengan cat yang baru (mencat ulang), bukan malah mecuci dinding dengan air, plus sedikit diterjen barangkali?
Jawabanya adalah yang akan berperan banyak dalam menjaga kestabilan kondisi bangsa ini kedepan agar menjadi bangsa yang bermartabat dan disegani dunia adalah seorang pemuda bukan kakek-kakek.

Pemuda zaman sekarang, bukan pemuda kemaren.
Karena pemuda selalu mendapatkan peran penting dalam setiap skenario dan di setiap episode-episode atau lembaran-lembaran sejarah kebangkitan peradaban manusia. Sebut saja peristiwa tentang sumpah pemuda, kemudian pada masa penjajahan belanda dan berlanjut ketika detik-detik proklamasi di proklamirkan, berlanjut pada peristiwa malari kemudian reformasi. Setiap peristiwa selalu ada peran pemuda di dalamnya. Harapan stabilnya bangunan Indonesia ini di tangan pemudah sangatlah wajar dan secara logika sangat mudah diterima akal sehat. Karena pemimpin yang ada pada saat sekarang ini adalah pemuda yang baru datang hari kemaen (5 atau 10 tahun yang lalu), dan pemuda yang ada pada saat ini merupakan pemimpin yang menentukan nasib bangsa kedepannya.

Sekarang, pemuda yang manakah yang bisa mengemban tugas yang mulia tersebut? Yaitu pemuda yang memiliki karakter pemimpin yang kuat dan tertanam komitmen perubahan di dadanya. Dialah pemuda yang ditunggu-tunggu selama ini yang bisa menjadi penentu arah di masa depan, dengan bekal: pemahaman yang kuat; keikhlasan dalam bermetamorfosis dan memetamorfosis; amal nyata dalam segala hal; bersungguh-sungguh mengusung perubahan; pengorbanan yang selalu menjadi cirikhasnya dalam setiap aksinya; ta’at dan patuh terhadap peraturan, sehingga memberikan contoh kedisiplinan pada khalayak; bersikap tegar dalam menyelesaikan dan menghadapi perjalan jauh untuk menorehkan tinta emas dalam setiap halte-halte kehidupannya; totalitas dalam menggapai tujuan untuk menjadikan mimpi menjadi nyata; mengikat tali persaudaraan (ukhuwah) dalam kondisi apapun dan dengan siapa pun; dan terakhir percaya dengan sesama saudara yang selalu memperjuangkan dan selalu berusaha untuk menggapai negeri utopia (impian) ini.


10 karakter yang disebutkan diatas tidak akan lepas dari jiwa seorang intelektual muda yang progresif, kreatif, dan memiliki inovasi-inovasi baru dan tidak basi sekaligus populer dalam melakukan perubaha kearah yang lebih baik.
Konsep rumah dari sudut pandang sebuah bangsa. Merupakan tempat bernaungnya berbagai macam model dan karakter masyarakat di dalamnya. Mulai dari yang kaya sampai yang miskin, dari yang berpendidikan sampai yang buta huruf, dari yang putih sampai hitam, dari yang berpakaian rapih sampai yang telanjang, dari yang peduli sampai apatis, dan masih banyak lagi macamnya.

Siapapun diri kita, dan penghuni yang bagaimanakah diri kita ini, sedikit banyaknya harus mengerti dan paham bahwa bagian yang berperan dalam menjaga kekuatan bangunan rumah kita ini (Indonesia) adalah pemuda, sehingga kita tau apa yang harus kita lakukan dan kita tahu kapan harus merenovasinya dan merawatnya untuk menjaga agar tetap kuat menghadapi masa depan bangsa ini. Jadi setiap kita mempunya kewajiban untuk menjaga dan merawatnya dengan bijak. Sehingga kita nyaman untuk tinggal di dalam rumah (Indonesia) yang sangat kita sayangi ini.


Kesimpulannya, jika struktur terpenting dalam sebuah bangunan besar (yang bernama Indonesia) ini yaitu pemuda, dan dia sudah memiliki karekter yang kuat sebagai intelektual muda dan selalu siap siaga dalam menopang perubahan zaman yang diwariskan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya, maka berbahagialah! Karena ini merupakan langkah pertama yang sudah dilakukan untuk mengejar masa depan emas dan indonesia emas. Namun jika belum, ini adalah pekerjaan rumah (PR) kita bersama dan harus diselesaikan secepat mungkin dan dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya agar kita tidak selalu kitinggalan jauh, dan selalu terbawa euforia kejayaan kerajaan-kerajaan zaman dulu.


Kemudian singsingkanlah lengan baju Katakan pada setiap orang dengan tegas! Pemuda adalah pewaris negeri...! maka saya telah bersiap siaga dan karena saya (pemuda) yakin kapanpun saya siap menggiring bangsa ini menjadi rumah idaman setiap orang.

Wisma Al Kahfi, 3 mei 2008,
dini hari jam 01.08 wib

Rifki ”Biruul walidain”

”Untuk kedua orang tua yang berada jauh di negeri seberang,
Dan untuk adik-adik ku yang trcinta: nesia, razak, mega.”
READ MORE - Mendambakan rumah impian

Sekuntum mawar di celah lumpur hitam

Senin, 17 November 2008

Sekilas jika kita coba memperhatikan mawar yang ada di depan halaman rumah. Tidak ada yang istimewa, biasa-biasa saja. Hanya mahkota bunganya yang lebih kelihatan menarik bagi mata untuk memandangnya, sekedar untuk berucap kalimat tasbih memuji Sang Pencipta. Sudah, itu saja.

Tapi jika kita memperhatikan, kenapa sekuntum mawar yang merah merona dan wangi semerbak bisa mekar dengan indahnya dari celah-celah tanah hitam yang kotor dan bau? Kenapa keindahan itu muncul dari tanah yang kotor, hitam, dan bau? Keajaiban penciptaan.


Bacalah. Bacalah dengan menyebut nama Robbmu yang telah menciptakan mu.


Perumpamaan bunga mawar, seperti itulah orang yang memiliki ilmu dan amal. Ilmunya akan menjaga amalnya dari pengaruh luar yang dapat merusak. Serta amalnya akan memperkokoh keilmuannya. Ilmu ibarat duri dan amal ibarat kelopak bunga yang indah.


Amal akan bisa menjadi kenyataan ketika hati telah memutuskan, dan hati dapat memutuskan dengan benar ketika akal telah mengolah data-data yang berguna untuk melakukan apa yang akan dikerjakan/ amalkan. Dan akal akan memberikan input yang benar ketika akal kaya akan ilmu-ilmu yang benar. Semua akan saling berkaitan dan mewarnai.


Ketika amal dan ilmu telah menyatu dalam kehidupan manusia. Hiruk pikuk kepentingan dunia semata tidak ada pengaruh baginya. Malah akan menjadi pemacu diri untuk terus mempertajam ilmu dan memperindah amal.


Sekotor-kotornya tanah tidak akan menjadikan hilangnya keindahan sekuntum bunga mawar. Sehancur-hancurnya zaman tidak akan menjadikan hilangnya militansi amal seorang aktivis da’wah di muka bumi.
Wallahua’lam
Rifki ‘birrul waalidain’
17 november 2008, senin, @ wisma KAHFI, 21.16 WIB

READ MORE - Sekuntum mawar di celah lumpur hitam

da'i yang kuat

Jumat, 07 November 2008

Semut, makluk kecil yang menikmati tubuhnya yang “kecil” tanpa mengingkari kenikmatan yang sudah diberikan oleh sang yang Maha Pemberi. Selalu bergerak kemanapun ia suka tanpa menganggap apaun yang menghalanginya sebagai penghalang baginya. Bahkan apapun benda yang menghalanginya pasti dijadikan tempat untuk melangkahkan kakinya yang kecil tersebut untuk selalu bergerak. Kita halangi dengan tangan kita, dia berjalan di atasnya! Dihalangi dengan buku, dia berjalan di atas buku! Dihalangi dengan padang rumput yang luas, dia jadikan rumah bahkan istana disana, di padang rumput tersebut.

Tabiat dan tujuan dari seekor semut cuma satu. Mencari gula. Semut tak akan berhenti bergerak, berjalan, mondar mandir, merayap, memanjat sampai ia mendapatkan apa yang dicari. Tidak Cuma itu yang bisa kita lihat dari seekor semut. Setelah si semut mendapatkan secuil gula, tanpa rasa rakus ia langsung membawa hasil penemuannya tersebut ke sarangnya, untuk dinikmati bersama-sama semut yang lain, sekali lagi tanpa rakus dan mementingkan keuntungan diri sendiri.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Kuasa atas apapun di alam semesta ini. Semoga kita bisa membaca tanda-tanda/ ayat-ayat yang bertebaran di muka bumi ini. Semut salah satunya. Jika kita bisa mengambil pelajaran dari small teacher (semut) ini, maka kehidupan seorang anak manusia (da’i) tidak ubahnya sekor semut kecil yang tinggal di “padang rumput belakang rumah”. Tujuan, winning goal harus kita miliki. Jika semut tujuan hidupnya adalah secuil gula, maka manusia hanyalah Allah SWT. Kegagalan-kegagalan yang ditemui dalam kehidupan adalah sebuah jalan baru yang mau tidak mau harus dilewati (seperti semut tadi yang selalu menjadikan apapun yang menghalanginya sebagai tempat melangkahkan kaki kecilnya yang mungil) dan dinikmati (seperti semut yang membangun istananya di padang rumput) untuk mencapai tujuan hidup.

Winning team yang dimiliki semut berhasil menjadikan semut menguasai tiap jengkal tanah yang anda di permukaan bumi, bahkan menjadi populasi terbanayak di bumi melebihi manusia. Manusia (da’i) juga harus memiliki al-jama’atu tastahiqqun najah (winning team), biar fitnah terhadap para da’I dan Islam tidak lagi dominan di telinga kita. Selalu bergerak, bergerak, dan bergerak dengan team yang kuat. Sebuah kegagalan hanyalah ibarat buku yang mengahalangi semut tadi. Coba kita bandingkan luas buku dengan luas permukaan bumi! Kecil. Jadi kegagalan hanyalah sebuah hal kecil yang menghalagi kita dari kesuksesan untuk mencapai kesuksesan yang terbentang luas.

Masih banyak lagi yang dapat kita ambil dari seekor semut. Ini menjadi sebuah bukti jika tidak ada sebuah penciptaan yang sia-sia. Semua tergantung bagaimana cara berfikir dalam menyikapai keajaiban sebuah penciptaan.

Pilihan dalam hidup bagi seorang da’i hanya ada satu. Menang atau menang! Salah satu yang menjadi syarat datangnya kemenangan tersebut adalah winning value, nilai-nilai apa yang membuat kita berhak mendapatkan kemenangan tersebut. Dan semoga kita menang sebagai penghuni syurganya Allah SWT yang Maha Agung yang sudah merancang kehidupan ini untuk kita jalani dan hadapai tantangan-tantangan yang disuguhkan kepada hamba-hambanya yang kuat.

Rabu, 8 Agustus 2007@ taman FIBUI, 18.07 WIB
direvisi Jum’at,7 November 2008 @ wisma KAHF, 11.06 WIB
READ MORE - da'i yang kuat