About Me
- rifki 'birrul waalidain'
- bangunlah peradaban umat mulai dari sosok yang ada di depan cermin...! orang besar bukan karena takdir yang di dapatkan dari lahir. tapi orang yang besar adalah orang yang selalu menghadapai takdir dengan segala kelincahannya...!! maka jadi seorang yang lincah adalah keniscayaan bagi intelektual progresif dan kreatif...!
Label
- Akhwat/ Female (9)
- Aku Untuk Negeriku (7)
- Artikel/ Article (12)
- berita/ news (4)
- Budaya/ Culture (3)
- Catatan Lepas/ Commentary (14)
- Curhat/ Unburden (15)
- Gagasan/ Potion (2)
- Syair untuk Gaza/ Song for Gaza (1)
- tarbiyah/ education (5)
Dewasa Bersikap
Minggu, 20 Desember 2009Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 08.01 0 komentar
Label: Catatan Lepas/ Commentary
Jatuh Hati Aku
Rabu, 21 Oktober 2009
Ada apa gerangan dengan cinta yang sedang dirasakan. Sebegitu liarkah hati ini sehingga tidak bisa mengendalikan rasa yang sangat merindu untuk tetap dekap denganmu dikehidupan sehari-hari. Kapan lagi rasa ini akan bisa terpuaskan sejenak saja. sebuah jurang pemisah bisa disatukan dengan sebuah jembatan yang disebut dengan "saling menerima". Sama-sama paham dengan kondisi satu dengan yang satunya lagi menjadikan setiap hati yang terpisahkan bisa dapat bertemu di jembatan penghubungnya.
Jurang tidak lagi sebagai penghalang di antara hati-hati yangsedang merindu ini, jurang menjadi keindahan tersendiri ketika sebuah jembatan bisa mempertemukan hati hati yang sedang dimabuk cinta.
"jauhnya jarak tidak akan memudarkan ikatan hati yang terjalin kuat"
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 09.35 0 komentar
Label: Akhwat/ Female, Catatan Lepas/ Commentary, Curhat/ Unburden
Secarik Kertas Hari ini
Rabu, 05 Agustus 2009
setiap hari yang kita lewatkan ibaratkan secarik kertas kosong yang sudah terbuang sia sia, butuh sebuah keberanian dan kemauan niat untuk menorehkan sesuatu titik sejarah hidup kita masing. Kenapa hidup ini disia-siakan lagi.??
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 20.17 0 komentar
payakumbuh dari ketinggian..!!
Minggu, 26 April 2009
Dari ketinggian...Warna hijau sangat dominan di tanah Payakumbuh ini...
Dari ketinggian...
Terlihat keteraturan peradaban yang coba di perlihatkan dari alur-alur jalan yang rapih...
Dari ketinggian ini...
Kita bisa tahu, Payakumbuh itu indah...
Sama seperti yang kita banggakan kepada orang banyak di rantau...
Dari ketinggian yang sangat tinggi ini...
Akan kah lahir orang-orang yang mempunyai cita-cita tinggi terhadap tanah kelahirannya...
Dari ketinggian yang tak terbayangkan ini...
Akankah indahnya hijau itu akan hilang dari balik kelopak mata kita...
Setelah kita berada beberapa saat di ketinggian ini...
Dan kita melihat dengan jelas dari ketinggian ini...
Akankah ada rindu dihati membangun kampung sendiri,
Ia mempunyai cita rasa yang tinggi dalam membangun cerita-cerita indah di benak para penghuni negeri ini...
Termasuk kita sendiri yang sekarang berada di ketinggian...
Dari ketinggian...
Mari kita turun kembali membangun nagari yang sudah tidak sabar menanti si 'paga nagari'...
Untuk menjaganya, bukan dari ketinggian...
Tapi dari kedekatan hati dan apa yang ada di dalamya... cinta...
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 00.35 0 komentar
Kisah Sukses Mantan Seorang Petugas Keamanan
Selasa, 31 Maret 2009
Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.
Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.
>
Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.
Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk
memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.
Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.
Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah,
membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.
Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika
beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini.
“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.
Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.
Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.
“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang
telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 23.41 0 komentar
Label: Aku Untuk Negeriku, Artikel/ Article, Catatan Lepas/ Commentary
Perubahan itu sendiri yang tak mau pernah berubah
Senin, 09 Maret 2009Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 18.24 0 komentar
Analogi itu seperti ini...
Minggu, 22 Februari 2009
aia lauik alah talanjua asin, tapi ikan ndak tabaok asin…. dunia menanti mu….
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 19.39 0 komentar
Label: Catatan Lepas/ Commentary, Curhat/ Unburden, tarbiyah/ education
Puisi dari .... untuk aktivis (Poetry from.... to aktivis)
Kamis, 22 Januari 2009
berhati-hatilah mengeluarkan pujian
Apalagi kepada ikhwan hati akan menjadi taruhan
dikejar-kejar baru lu kelabakan :P
buat ikhwan
berhati-hatilah memberikan semangat
apalagi kepada akhwat
jika hatinya tak kuat
hatimu juga bisa dalam kondisi gaswat :)
he..he.. lagi iseng bikin puisi sambil nunggu dosen...!
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 11.36 0 komentar
Label: Akhwat/ Female, Catatan Lepas/ Commentary, Curhat/ Unburden
Peregrination whit not finish stripe (perjalan tanpa garis finish)
Dunia da’wah (akrab didengar dengan dunianya aktivis), dalam pencapaian tujuannya acap kali menemukan tanggul-tanggul yang dapat mengurangi laju dari kendaraan da’wah itu sendiri. Ironisnya, dengan sadar kita menganggap tanggul tersebut hanya merupakan sebuah kewajaran dalam dunia da’wah.
Perselisihan, ketegangan, dan berbagai macam perwujudannya telah mencoba menjadikan tali silaturahim yang berperan sebagai motor da’wah ini ikut terusik. Perpecahan antara aktivis tidak dapat dielakkan lagi, bahkan berbuntut pada pencabutan hak loyalitasnya terhadap dunia da’wah nan indah ini.
Miris memang!
“Lingkaran-lingkaran” yang seharusnya menambah mesrah ikatan tali kekeluargaan diantara mereka malah menjadi sumber api perpecahan kader da’wah masa depan, kader da’wah bangsa, kader-kader da’wah dunia, dan kader da’wah yang akan memiliki prestasi nan gemilang di lembah sejarah manusia.
Siapa yang lebih bertanggung jawab akan hal ini?
Apakah sang murobbi yang tak padan dan tidak memenuhi hak mutarobinya?
Atau memang murni karena konflik-konflik internal (perang dingin) antara anggota “lingkaran” itu sendiri tanpa sepengetahuan murobbinya?
Atau sebab adanya seniorisme (siapa yang dapat hidayah lebih awal dialah yang paling berhak di dengar), hal ini bisa menjadi tanggul pengghalang jalannya da’wah ini?
Jika betul semua hal ini mengakibatkan timbulnya riak-riak kecil di samudera da’wah ini. Maka, apa sebuah kewajaran jika hal-hal ini ikut lebur dan larut dalam formula da’wah kita?
Jangan sampai ghiroh dan ruh da’wah para kader dibunuh dengan divonis matinya mereka di tali gantungan (ketidak pedulian masing-masing kita) yang telah lama melilit di leher mereka (para tentara Allah masa depan tersebut).
Dia-lah Allah yang maha membolak-balikan hati kita! Cerita baru akan selesai ketika nyawa tak lagi dikandung badan. Maka buatlah cerita tentang kemenangan dakwah!
Salam cinta untuk adinda nesia,razak,dan mega
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 11.25 0 komentar
Label: Artikel/ Article, Catatan Lepas/ Commentary, Curhat/ Unburden, tarbiyah/ education
Tausyiah hari ini untuk kader da'wah
Asslamu'alaikumsemua orang tau betapa pentingnya waktu.
namun tidak semua orang pandai menata waktu yang cuma sedikit itu.
padahal hanya ada dua waktu yang tersedia: dzikrullah atau lalai.
bagi seorang muslim cara yang paling efektif untuk mengoptimalkan waktunya adalah dengan selalu berada dalam keadaan dzikrullah! karena setiap saat adalah modal untuk menggapai ridho Allah swt (QS. 57:16).
jadilah orang yang selalu mengisi pos-pos yang kosong! sehingga ketika kita harus meninggalkan para kader-kader pelanjut estafet dakwah ini pada suatu saat, mereka akan merasa kehilangan diri kita dan merindukan ide-ide dakwah kita! jangan sampai ada atau tidak adanya kita di tengah-tengah mereka sama saja bagi
mereka..
semangat semuanya......!
surga dan bidadari sudah tidak sabar menunggu kedatangan mu...!
allahuakabar..!
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 03.21 0 komentar
Bazar kultur expo...!
Kamis, 08 Januari 2009
Dunia maya telah berhasil meruntuhkan dinding penghalang, sekat2 antar ras, gender, kasta dan lain lain yang ada di dunia ini...! sehingga muncullah sebuah pegelaran big bazar cultur....!Setiap orang bebas memilih kultur apa yang dia inginkan dan juga tidak ada yang menghalangi untuk melepaskan kembali kultur yang telah lama di pakainya...!
kultur kehidupan anak mesjid pun ikut di kotomi dan di kikir sampai habis...!
kehidupan yang notabene memiliki ruang-ruang pembatas antara yang halal dan yang haram, yang substansial dan non substansial, yang sawabit dan mutaghaiyirot.... semuanya seakan akan di telanjangi habis habisan oleh para pecinta cultur anak mesjid itu sendiri di dalam bazar multi cultur yang ada di dunia maya...!
Sapa menyapa diantara ikhwan dan akahwat yang di bolehkan.... ditambah lagi dengan obrolan-obrolan yang seharusnya tidak sewajarnya dilakukan ikhwan dan kahwat di dunia nyata itu di lakukan di dunia maya....! hmm.....?!
sekarang...
selamat menikmti big ivent "BAZAR MULTI KULTUR'....
(suasana pasar)
di obral.....2x
murah meriah......! buk silahkan pilih...! seribu.... seribu...
beli 2 sekaligus dapat tiga....!
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 02.46 0 komentar
Label: Catatan Lepas/ Commentary
Asas Tunggal PANCASILA jilid II, di berlakukan kembali....?
Selasa, 06 Januari 2009
Kita ambil satu contoh pergerakan mahasiswa yang tampak luarnya (bukan internal organisasi) masih terlihat eksis dan solid yang berada di rata-rata hampir seluruh kampus Indonesia, yaitu LDK.
apa yang akan terjadi terhadap organisasi yang satu ini (yang berasaskan islam) ketika 2 tahun tau 3 tahun kedepan dihadapkan dengan kondisi diberlakukannya kembali asas tunggal (ASTUNG) pancasila di negeri ini.........?
apakah itu dengan naiknya kembali pemimpin tertinggi negara ini dari kalangan militer...!
bisa jadikan....? Apakah kondisi seperti ini terfikirkan oleh para aktivis LDK (Lembaga Dakwah Kampus)......! Atau mungkin saja akan lahir LDK 'dipo" dan LDK 'mpo' sebagaimana teman2 HMI yang notabene bentuk lain dari LDK jaman dulu......?
............................siapkah LDK............?????
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 08.05 1 komentar
Label: Catatan Lepas/ Commentary
saat kita sendiri
Senin, 03 November 2008
Kahfi baru saja melangkahkan kaki keluar dari lingkungan kampus, menuju ke tempat dimana ia dapat melepaskan semua penatnya (kos-an). Sepanjang jalan menuju tujuannya, terjadi sesuatu yang indah dalam qalbunya. Tubuhnya yang terasa penat serta kepala yang terasa berat tidak mampu menghentikan gerak lintasan dalam qalbunya-qalbu yang selalu terjaga dengan nilai-nilai bernuansa ruhiyah."Rabb...inikah yang dirasakan oleh para pendahulu kami...inikah situasi yang telah Engkau janjikan untuk kami" benaknya.
Apa yang Kahfi lakukan hari ini tidak jauh berbeda dengan tiga hari sebelumnya. Menyelesaikan surat-surat ijin untuk tugas akhir akedemiknya. Birokrasi yang ia hadapi serta waktu yang begitu terbatas memaksanya untuk menyediakan keikhlasan dosis tinggi dalam hatinya. Apa yang dihadapinya sebetulnya tidak dirasakan sendiri olehnya, inipun dirasakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Hal inilah yang sedikit banyak membuat ia merasa malu untuk bersikap lemah.
Taushiah pun mengalir deras untuk dirinya sendiri.
Rasa malu sempat hinggap dihatinya, ketika teringat dengan nasihat-nasihat yang selalu dipegangnya selama ini. Tidak sepatutnya semua aktivitas yang ia lakukan menjadikan ia melupakan akan makna dibalik ini semua. Apalah artinya prestasi bagus, harta duniawi yang melimpah serta pujian dari manusia, jika itu semua tidak membuat kita semakin pintar dalam mengingat-Nya. Apalagi jika dalam menyelesaikan semua persoalan duniawi tersebut kita hanya mengandalkan rasio kita yang terbatas. Teringatlah ia akan sirah-sirah nabawiyah yang dibacanya, yang membuktikan bahwa hitungan matematis tidak berlaku ketika dihadapkan pada kekuatan keimanan.
Qalbunya pun meminta untuk terus bermuhasabah...
"Allah...di sore ini kuhitung amalku...
yang telah kulakukan hari ini...
Terimalah kebaikanku..
Hapuskan dosaku...
Ya Allah..kabulkanlah doaku..."
Hati terdalamnya diam-diam melantunkan bait-bait Suara Persaudaraan. Suasana "kesendirian" yang ia alami menjadikan ia harus menyediakan kesabaran untuk selalu menyemangati diri sendiri. Lain rasanya ketika saudara-saudaranya masing sering berada di sisinya. Akan selalu tersedia sambutan hangat, rangkulan penyemangat, serta taushiah padat yang akan ia dapatkan (baik ia meminta ataupun tidak). Kini kedewasaannya benar-benar teruji. Seakan-akan situasi ini adalah momen untuk membuktikan apakah ia memahami dengan benar semua materi-materi halaqoh yang ia dapatkan.
Langkahnya-pun semakin cepat seiring dengan langit yang semakin gelap. Teringat ia akan amal yaummi yang belum ia sempurnakan..
" Ya Allah...belum satu juz..!!
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 02.33 0 komentar
Label: Catatan Lepas/ Commentary, Curhat/ Unburden, tarbiyah/ education
aku yakin, aku tidak sendiri
Sungguh. Hingga saat ini aku belum bisa menerjemahkan rasa hatiku sendiri. Sejak pertama kali suamiku mengatakan niatnya untuk melanjutkan studi ke negeri jiran setahun lalu, hingga sore ini, di mana besok suamiku harus berangkat, aku masih merasa asing dengan perasaanku.Bahagia! Beberapa orang mengatakan aku harus demikian. Karena kesempatan ini adalah karunia yang tidak dapat dinikmati oleh semua orang.
Sedih? Itu yang ada di lubuk kalbuku, saat kulihat putra kami yang belum juga genap dua tahun harus tumbuh berkembang tanpa ayah di sisinya, untuk sementara waktu.
Ah… biarlah semuanya mengalir seperti air. Biarlah semuanya diatur oleh Dzat Yang Maha Mengetahui kesudahan hamba-Nya. Biarlah!
Memang hanya itu yang selama ini mengakhiri perenunganku, tentang hidup kami setelah suamiku berangkat. “Sabar ya, Sayang. Toh nanti kamu pun akan menyusul. Berdoalah semoga Allah segera mengumpulkan kita kembali dalam keadaan yang lebih berbahagia…” demikian kata-kata yang selalu diucapkan oleh suamiku, untuk menenangkanku. Aku pun paham, bahwa dia juga terhibur dengan kata-kata itu. Dan, akhirnya, hanya senyum yang menyudahi pembicaraan kami. Senyum penuh harapan, akan tercapainya cita-cita.
***
Allah memang mempunyai cara tersendiri untuk menata kehidupan hamba-Nya. Aku merasa amat bersyukur. Enam bulan lalu, perusahaan tempat suamiku bekerja merumahkan seluruh karyawannya. Saat itu, kami sendiri merasa gundah, terlebih berita di media menyebutkan bahwa ini adalah awal dari PHK. Ah… padahal sebelumnya kami sama sekali tak pernah membayangkannya. Memang, kadang niatan untuk mencari nafkah di tempat lain muncul, tapi itu hanya suatu wacana, bukan sebuah keseriusan. Dan, tatkala musibah itu datang, kami pun khawatir.
Doa pun mengalir tiada henti, memohon kemurahan rizki-Nya. Memohon ketenangan batin, mengharap situasi segera berubah. Alhamdulillah, dua pekan setelah itu, berita gembira datang. Setelah empat kali mengirimkan pengajuan beasiswa, Allah pun menjawabnya. Seorang professor salah satu perguruan tinggi negeri di Malaysia, mengijinkannya mengerjakan sebuah proyek, sembari mengambil pendidikan master. Subhannallah.. Alhamdulillah, pertolongan Allah memang begitu dekat buat semua hamba-hamba-Nya.
Hal yang dulu sempat menjadi masalah tak terpecahkan dalam setiap percakapan kami, akhirnya berubah menjadi sebuah anugerah yang tak ternilai. Jika dulu, aku sangat menentang keinginannya untuk melanjutkan studi karena kami harus berpisah, malah akhirnya aku menjadi pendukung utamanya. Subhannallah… Allah memang Maha membolak-balik hati hamba-Nya.
***
Sore ini, kembali aku merenung. Setelah dukungan demi dukungan kukerahkan padanya untuk persiapan keberangkatannya, aku tercenung. Apa yang nanti akan terjadi saat kami berpisah? Bagaimana aku bisa meng-handle semua pekerjaan rumah tangga yang dulu kami kerjakan berdua, bahkan bertiga dengan pengasuh anakku? Kepada siapa aku harus menumpahkan segala uneg-uneg setelah lebih dari delapan jam aku bekerja di kantor? Bagaimana aku harus menjelaskan kepada bocah kami, jika nanti dia merengek menanyakan ayahnya?
Beribu pertanyaan bermunculan di benakku. Namun tak satu pun yang terjawab. Semuanya bak misteri.
Hingga adzan maghrib berkumandang, aku masih belum menemukan jawabannya.
Kuambil air wudhu dan kutunaikan sholat. Aku berencana untuk menumpahkan segala rasaku pada Sang Khalik, usai sholat nanti.
Dan air mataku pun tak bisa kutahan lagi saat kata demi kata terurai, tertuju kepada-Nya. Aku memang masih bisa menahan emosi dan air mataku di depan suamiku. Karena aku tak ingin semangatnya jatuh kembali setelah beribu dukungan kuberikan kepadanya. Aku percaya akan tujuannya, menuntut ilmu untuk berusaha mengubah nasib kami.
Doakan ayah dapat ilmu yang manfaat ya, Ma, begitu kalimat yang selalu diucapkannya jika kami berbincang tentang rencana itu.
Namun, apakah aku mampu menyembunyikan segala kesedihan dan kekhawatiran hati ini kepada-Nya? Kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui hal yang nyata dan yang ghaib? Tidak! Tentu tidak. Aku tidak dapat berbohong kepada-Nya.
Sekarang aku mulai memahami, bahwa hatiku memang sedih. Aku memang khawatir… aku memang takut.
Namun semua kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan yang kurasakan harusnya tidak boleh terjadi.
Aku harus pasrah.. harus tawakal. Karena rencana itu tidak akan terjadi kecuali atas kehandak-Nya. Bukankah sebelumnya aku selalu berdoa meminta keputusan yang terbaik? Jika kemudian Allah menganugerahkan hal ini padanya, tentunya ini juga terjadi atas kehendak-Nya.
Aku harus tegar. Aku harus ikhlas.
Aku harus tetap menjalankan kehidupanku dengan sebaik-baiknya. Aku masih harus terus mendidik buah hati kami, walau tanpa ayah disampingnya. Apa pun yang terjadi, air mataku tak boleh menetes di depan putraku.
Aku yakin aku tidak sendiri. Ada Allah.. Dzat Yang Maha Pemurah… Dzat yang tak pernah kering kasih sayang-Nya… Dzat Yang Maha Welas Asih…Dzat Yang Maha Perkasa.
Kepada-Nya lah aku harus mengadukan setiap hal yang kuhadapi. Saat masalah datang. Saat kelelahan mendera jiwa dan raga. Saat beragam pernik kehidupan harus kulintasi.
Aku teringat petikan nasyid yang dikumandangkan Raihan:
Selangkah ku kepada-Mu.
Seribu langkah kau padaku…
Selama kita berusaha mendekat kepada-Nya, insya Allah Dia juga akan mendekat pada kita, seribu kali.
Doa. Hanya melalui doa-doa panjanglah aku akan mengharap rahmat-Nya. Agar cita-cita mulia yang kami impikan, bisa menajdi sebuah kenyataan.
eramuslim
Diposting oleh rifki 'birrul waalidain' di 02.28 0 komentar

