Tampilkan postingan dengan label tarbiyah/ education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tarbiyah/ education. Tampilkan semua postingan

Analogi itu seperti ini...

Minggu, 22 Februari 2009

Ujian demi ujian menjadi sebuah moment pendewasaan pribadi di ranah dakwah thulabi negara dan bangsa yang kita cintai ini. setitik usaha dari pejuang sejati merupakan setetes embun yang segar yang masuk ke tenggorokan bangsa indonesia yang sedang panas dalam, menahan racun kesengsaraan dan kekurangan air (red: kader-kader islam yang militan dan luas wawasannya) untuk melancarkan pencernaannya dan kemudian menghasilkan energi perubahan yang akan dirasakan manfaatnya oleh dunia… sehingga benar bahawa islam itu adalah rahmat bagi alam semesta….

aia lauik alah talanjua asin, tapi ikan ndak tabaok asin…. dunia menanti mu….
READ MORE - Analogi itu seperti ini...

Peregrination whit not finish stripe (perjalan tanpa garis finish)

Kamis, 22 Januari 2009

Mempunyai berbagai permasalahan yang kompleks dan rumit, bertabur akan onak dan duri, dan bukan perjalan yang singkat untuk ditempuh melainkan perjalanan tanpa adanya garis finis. Itulah dunia da’wah yang selama ini sangat kita kenal.

Dunia da’wah (akrab didengar dengan dunianya aktivis), dalam pencapaian tujuannya acap kali menemukan tanggul-tanggul yang dapat mengurangi laju dari kendaraan da’wah itu sendiri. Ironisnya, dengan sadar kita menganggap tanggul tersebut hanya merupakan sebuah kewajaran dalam dunia da’wah.

Perselisihan, ketegangan, dan berbagai macam perwujudannya telah mencoba menjadikan tali silaturahim yang berperan sebagai motor da’wah ini ikut terusik. Perpecahan antara aktivis tidak dapat dielakkan lagi, bahkan berbuntut pada pencabutan hak loyalitasnya terhadap dunia da’wah nan indah ini.

Miris memang!

“Lingkaran-lingkaran” yang seharusnya menambah mesrah ikatan tali kekeluargaan diantara mereka malah menjadi sumber api perpecahan kader da’wah masa depan, kader da’wah bangsa, kader-kader da’wah dunia, dan kader da’wah yang akan memiliki prestasi nan gemilang di lembah sejarah manusia.

Siapa yang lebih bertanggung jawab akan hal ini?

Apakah sang murobbi yang tak padan dan tidak memenuhi hak mutarobinya?

Atau memang murni karena konflik-konflik internal (perang dingin) antara anggota “lingkaran” itu sendiri tanpa sepengetahuan murobbinya?

Atau sebab adanya seniorisme (siapa yang dapat hidayah lebih awal dialah yang paling berhak di dengar), hal ini bisa menjadi tanggul pengghalang jalannya da’wah ini?

Jika betul semua hal ini mengakibatkan timbulnya riak-riak kecil di samudera da’wah ini. Maka, apa sebuah kewajaran jika hal-hal ini ikut lebur dan larut dalam formula da’wah kita?

Jangan sampai ghiroh dan ruh da’wah para kader dibunuh dengan divonis matinya mereka di tali gantungan (ketidak pedulian masing-masing kita) yang telah lama melilit di leher mereka (para tentara Allah masa depan tersebut).

Dia-lah Allah yang maha membolak-balikan hati kita! Cerita baru akan selesai ketika nyawa tak lagi dikandung badan. Maka buatlah cerita tentang kemenangan dakwah!



01 november 2005,
Salam cinta untuk adinda nesia,razak,dan mega

READ MORE - Peregrination whit not finish stripe (perjalan tanpa garis finish)

surat cinta untukmu... ukhti....

Senin, 03 November 2008

Kriiiing, kriiiiing,kriiiiing, pak pos lewat tepat di depan sekumpulan akhwat yang sedang LIQO’ ( ngaji ), tiba-tiba pak pos menghampiri mereka
“assalamu’alaikum”
“waa’alikumussalam” jawab akhwat serempak
“afwan, ukhti… ini ada surat untuk mujahidah” kata pak pos
“ooooh… syukron pak”
“ya.. afwan” jawab pak pos singkat, sesingkat beliau mampir ke tempat itu
“assalamu’alaikum” pamit pak pos
“wa’alaikum salam” jawab jilbaber serempak

tak sabaran merekapun membuka surat yang baru saja di terimanya
bereweeeek, sebuah amplop berwarna pink di sobek, lalu seorang murobbiyah pun membacanya, dan mutarobbbiyah khusyu mendengarkannya

“ assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh “ seuntai kata dari surat itu mulai di baca
“wa’alaikum salam warahmatullahi wabaraktuhu” jawab jilbaber lagi-lagi kompak
“ukhti… yang di nantikan syurga “ satu persatu murobbiyah mulai mengalirkan kata-kata surat yang di bacanya

 Ukhti…Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho tuhanmu,mungkinkah besarnya kerudungmu hanya di gunakan sebagai fashion atau gaya jaman sekarang, atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang di idamkan bahkan bisa jadi kierudung besarmu hanya akan di jadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan di kagumi oleh banyak ikhwan

 Ukhti…tertutupnya tubuhmu Tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antum sendiri, coba perhatiukan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sadari melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu

 Ukhti…lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suara antum sama dengan lembutnya ksasihmu pada sauadaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu

 Ukhti…lembutnya Parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa seklaipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

 Ukhti…Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju tuahnmu dengan bangun di tengah malam dan di temani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan di nina bobokan dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.

 Ukhti…Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang entum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang snagat mengerikan yaitu maksiat

 Ukhti…cantiknya wajahmumu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antum sendiri, pernahkah antum menyadari bahwa kecantikan yang antum punya hanya titpan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antum masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu

 Ukhti…tundukan pandanganmu yang katuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk beranui menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuuh yang akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu,

 Ukhti…tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu teerhadapa warga sesamamu mu yang tertindas di palestina, pernahkah antum menangis ketika mujhaid-mujahidah kevil tertembak mati, atau dengan cuek bebk membiarkan begitu saja, pernahkah antum merasakan bagaimana rasanya baerjihad yang di lakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan

 Ukhti…lirikan mamatamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat, coba antum perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman,saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan manisny islam dan iman mereka belum merasakan apa yang antum rasakan, bisa jadi salah satu dari kleuargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berprlikaku binatang yang tak karuan, sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang kamu rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemulyaan islam

 Ukhti…tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada sang khalolikmu, antum adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengiontai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul di jaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakuakn sejak dari sekarang, kapan lagi coba….

 Ukhti…Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keleuargamu sendiri, masih kah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah di raih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas di tas rata-rasat akhwat yang lain, sesombong itukah haitmu, lallu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu

 Ukhti…rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infakmu ke mesjid atau mushola, sadarkah antum kalo kotak-kotak nongkrong di masjid masih terliat kosongdan menghawatirkan, tidakkah antum memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, maukah antum di beri rizki sepelit itu.

 Ukhti…rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunanah senin kamis yang antum laksanakan , kejujuran hati tidak bisa di bohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksankan tapi, semanga tr uhani tanpa di sadari turun drastic, puasa yaumul bith pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang di rasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum, makanan fisik yang antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi


 Ukhti…manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kaishmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum lewati, sikap ramahmu pada orang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuex dan menyebalkan, kalau itu kenyataanya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi… antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memrlukan dakwah

 Ukhti…rajinnya shalat malammu tidak menjamin keistiqomahan seperti rosulullah sebagai panutanmu,

 Ukhti…ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang kholikmu, masihkah antum senang bermanjaan dengan tuhanmu dengan shalat duhamu, shalat malamu?

 Ukhti…dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang mujahid akan segara menghampirimu

 Ukhti…masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih teringiang sampai saat ini bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik, jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu

 Ukhti…Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga rabbmu.maka, tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu

 Ukhti…muhasabah yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang di lakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antum tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhalk busuk mu di lupakan, kenapa muhasabah tidak di jadikan sebagai moment untuk perbaikan diri bukankah akhwat yang hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik

 Ukhti…pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa yang antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu inging mencari istri yang solehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah

 Ukhti…apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum,seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv yang tidak karuan dan hanya kan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa Bantu o0rang tua, kapan akan menjadi anak yang biruwalidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan, mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah,

 Ukhti…apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasa n belaka karena merasa berkerudung besar la

 Ukhti… hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang laing, kadang orang lain akan mempunyai persepsi di sama ratakan antara akhwat yang sautu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan akhlak maka akan merusak citra akhwat yang lain

 Ukhti…dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan brandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan itri yang solehah, siapkah antum sekarang menjadi istri solehah yang selalu di damba-dambakan oleh semua orang

Selesai membaca, tak terasa murobbiyah dan mutarobbiyah pun mengeluarkan butiran-butiran halus dari matanya, mereka menangis, meratapi dan muhasabah bersama dalam liqo’atnya
READ MORE - surat cinta untukmu... ukhti....

saat kita sendiri

Kahfi baru saja melangkahkan kaki keluar dari lingkungan kampus, menuju ke tempat dimana ia dapat melepaskan semua penatnya (kos-an). Sepanjang jalan menuju tujuannya, terjadi sesuatu yang indah dalam qalbunya. Tubuhnya yang terasa penat serta kepala yang terasa berat tidak mampu menghentikan gerak lintasan dalam qalbunya-qalbu yang selalu terjaga dengan nilai-nilai bernuansa ruhiyah.

"Rabb...inikah yang dirasakan oleh para pendahulu kami...inikah situasi yang telah Engkau janjikan untuk kami" benaknya.

Apa yang Kahfi lakukan hari ini tidak jauh berbeda dengan tiga hari sebelumnya. Menyelesaikan surat-surat ijin untuk tugas akhir akedemiknya. Birokrasi yang ia hadapi serta waktu yang begitu terbatas memaksanya untuk menyediakan keikhlasan dosis tinggi dalam hatinya. Apa yang dihadapinya sebetulnya tidak dirasakan sendiri olehnya, inipun dirasakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Hal inilah yang sedikit banyak membuat ia merasa malu untuk bersikap lemah.

Taushiah pun mengalir deras untuk dirinya sendiri.

Rasa malu sempat hinggap dihatinya, ketika teringat dengan nasihat-nasihat yang selalu dipegangnya selama ini. Tidak sepatutnya semua aktivitas yang ia lakukan menjadikan ia melupakan akan makna dibalik ini semua. Apalah artinya prestasi bagus, harta duniawi yang melimpah serta pujian dari manusia, jika itu semua tidak membuat kita semakin pintar dalam mengingat-Nya. Apalagi jika dalam menyelesaikan semua persoalan duniawi tersebut kita hanya mengandalkan rasio kita yang terbatas. Teringatlah ia akan sirah-sirah nabawiyah yang dibacanya, yang membuktikan bahwa hitungan matematis tidak berlaku ketika dihadapkan pada kekuatan keimanan.

Qalbunya pun meminta untuk terus bermuhasabah...

"Allah...di sore ini kuhitung amalku...
yang telah kulakukan hari ini...
Terimalah kebaikanku..
Hapuskan dosaku...
Ya Allah..kabulkanlah doaku..."

Hati terdalamnya diam-diam melantunkan bait-bait Suara Persaudaraan. Suasana "kesendirian" yang ia alami menjadikan ia harus menyediakan kesabaran untuk selalu menyemangati diri sendiri. Lain rasanya ketika saudara-saudaranya masing sering berada di sisinya. Akan selalu tersedia sambutan hangat, rangkulan penyemangat, serta taushiah padat yang akan ia dapatkan (baik ia meminta ataupun tidak). Kini kedewasaannya benar-benar teruji. Seakan-akan situasi ini adalah momen untuk membuktikan apakah ia memahami dengan benar semua materi-materi halaqoh yang ia dapatkan.

Langkahnya-pun semakin cepat seiring dengan langit yang semakin gelap. Teringat ia akan amal yaummi yang belum ia sempurnakan..
" Ya Allah...belum satu juz..!!

(jundihasan)
READ MORE - saat kita sendiri

tarbiyah dzatiyah

Rabu, 24 September 2008

Sebagai manusia, tentu memiliki fitrah sebagai manusia. Salah satunya adanya rasa untuk meiliki diri sendiri atau memiliki kepribadian sendiri tanpa dibawah pengaruh orang lain. Dan hati nurani manusia itu selalu coendrung terhadap yang baik/ indah. Sekarang yang jadi pertanyaannya: apakah manusia tersebut sanggup mencapai kepribadian yang baik?

Tarbiyah dzatiya memiliki peran yang sangat penting dan dibutuhkan sekali dalam membentuk kepribadian yang baik. Karena segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang , hanya diketahui oleh dirinya dan Allah SWT. Apakah itu amal perbuatan yang baik, ataukah sebuah kemaksiatan kecil, dosa, dan lain sebagainya. Gigi yang sakit hanya dapat dirasakan oleh orang yang mempunyai gigi tersebut, mustahil jika orang lain dapat merasakan rasa nyeri yang sama, dan orang yang merasakan sakit gigi tantu ia akan mencari obat gigi. Begitu pula lah orang yang merasakan dirinya dalam kekurangan maka ia akan berusaha menghilangkan kekurangan atau menjadikan kekurangan tersebut menjadi sebuah kelebihan bagi dirinya. Disinilah kita dapat mendefenisikan tarbiyah dzatiyah (pembinaan diri/ pribadi) itu adalah sesuatu yang penting.

Dan manusia sebagai da’I dimuka bumi ini tentu saja akan memperbaiki kondisi yang ada menjadi lebih baik, memberikan nasehat atau taujih. Dan untuk bisa melakukan itu semua tentulah kita harus terlebih dahulu menjadi seorang panutan yang patut ditiru. Maka dengan memperbaiki diri sendiri (tarbiyah dzatiyah) sebuah kepribadian yang yang layak ditiru akan muncul. Karena sebuah kepribadian tidak akan bisa timbul dengan beberapa kali ceramah saja.

Di alam tentulah berlaku hukum alam. Sebuah benda pasti terdiri dari seperangkat bagian-bagian kecil. Contohnya: meja terdiri dari beberapa bagian, yaitu kaki meja dan alas utuk meletakkan benda, dan kaki meja terdiri dari serat-serat kayu, dan serat-serat kayu terdari dari beberapa bagian lagi. Begitu seterusnya. Dan dalam memperbaiki sebuah bangsa yang moralnya hampir rusak total ini akan dapat diperbaiki kembali jika dimulai dari setiap individu yang hidup di negeri ini. Sebab jika setiap individu baik, maka baik pulalah keluarganya. Dengan sendirinya pula negeri ini akan membaik.
READ MORE - tarbiyah dzatiyah