Antum jatuh cinta..? Tafadhol....! ( Do you falling love..? please do that...! )

Kamis, 22 Januari 2009

Bagian yang tidak boleh dilupakan dari frame kehidupan ini adalah cinta. Dimana cinta merupakan anugerah yang terindah karunia sang kholik kepada makhluknya selain akal dan fikiran, nafsu dan syahwat tentunya.

Cintanya seorang manusia sangat jauh bedanya dari cinta seekor binatang yang tidak memiliki akal fikiran, pasti. Juga sangat jauh berbeda dari cintanya makhluk suci yaitu malaikat. Apalagi dengan cintanya makluk terkutuk yang bernama syetan, karna syetan hanya suka terhadap sesuatu yang tidak di sukai sang pemilik alam semesta ini,Allah SWT.

Cintanya manusia adalah:

cinta yang tulus ikhlas terhadap robbnya yang timbul setelah melalui fase perang pemikiran yang dahsyat yang tidak pernah di alamai oleh malikat sekalipun, karena manusia mempunyai akal dan fikiran.

Cinta manusia terhadap sesama makluk Allah (pria dan wanita) yang timbul, bukan hanya sekedar syahwat belaka (karena syahwat juga merupakan karunia yang diberikan Allah kepada kita). Tetapi cinta yang diikuti dengan pengharapan cinta yang lebih sejati dari semua cinta sejati yaitu cintanya Allah, setelah masa penungguan yang amat panjang dirasakan. Inilah setulus-tulusnya cinta, dan semurni-murninya cinta, cinta yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman! (semoga penulis memiliki rasa cinta ini dan juga para pembaca yang saya cintai karena Allah).

Dengan cinta manusia hadir dalam kehidupan ini, juga dengan cinta manusia menjalani alur maju mundurnya sebuah kehidupan yang hanya beberapa saat ini, dan juga dengan cinta yang hakiki --mudah-mudahan-- kita mengakhiri hidup kita ini. Amin…

Berbicara tentang cinta memang tidak akan ada habisnya. Terbukti kalau film, sinetron, puisi, lagu, lukisan, cerpen, novel yang berbau cinta selalu laris-manis di dunia hiburan, karena cinta itu sendiri adalah sebuah keindahan. Keindahan itu dapat berupa keindahan fisik seperti keindahan alam, puisi, dan lukisan. Dan yang kedua yaitu keindahan non fisik seperti akhlak seorang istri yang sholeha, suara yang merdu dan masih banyak lagi contoh yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari hari.

Semangat, percaya diri, sakit, depresi, bahkan bunuh diri akan dilakoni seseorang yang disebabkan oleh cinta, karna apa yang dinginkannya tidak tercapai. Oleh kerana itu tetap cinta yang hakiki itu hanyalah cinta pada Allah. Cinta pada anak, istri, suami, harta, pangakat, hanyalah sekeping cinta yang fana.

Banyak sudah kisah cinta ynag harus berakhir tragis:

Fir’aun akhirnya mati tenggelam karena terlalu cinta terhadap kekuasan, si Qorun di telan oleh bumi karena kekikiran dan kecintaannya yang sangat amat sangat terhadap harta, umat nabi Luth yang dimusnahkan dari muka bumi disebabkan karena kecintaan mereka terhadap nafsu syahwat yang menyimpang.

Namun banyak juga kisah-kisah cinta sejati yang berakhir dengan kegembiraan dan keharuan:

Cinta para generasi awal, yaitu generasi yang menjadi tauladan, generasi para sahabat yang dengan niat tulus ikhlas memperlihatkan kecintaannya terhadap Islam. As syahid ahmad yasin yang sangat mencintai al Aqso. As Syahid Muhammad fatih farhat, seorang pemuda yang sanggup membuat gentar tentara Israel dan dia sangat merindukan Allah dan bidadari-bidadari surga. Abdul Aziz Al Rantisi yang mencintai dan merindukan kesyahidan melalui roket heli tempur apache Israel.

Berbagai macam menu cinta yang ada di kehidupan ini. Bagi seseorang yang masih mempunyai rasa cinta , maka cinta itu akan menimbulkan kekuatan baginya (the power of love).

Ikhwan dan akhwat yang saya cintai karena Allah, sekarang kita tinggal memilih. Karena semua menu cinta telah terhidang pada jamuan kehidupan dunia ini.

Tafadhal ya akh…! Silahkan pilih!

01 november 2005,
Salam cinta untuk adinda: nesia,razak,dan mega
READ MORE - Antum jatuh cinta..? Tafadhol....! ( Do you falling love..? please do that...! )

Puisi dari .... untuk aktivis (Poetry from.... to aktivis)

tuk akhwat duluan:
berhati-hatilah mengeluarkan pujian
Apalagi kepada ikhwan hati akan menjadi taruhan
dikejar-kejar baru lu kelabakan :P

buat ikhwan
berhati-hatilah memberikan semangat
apalagi kepada akhwat
jika hatinya tak kuat
hatimu juga bisa dalam kondisi gaswat :)

he..he.. lagi iseng bikin puisi sambil nunggu dosen...!

READ MORE - Puisi dari .... untuk aktivis (Poetry from.... to aktivis)

Peregrination whit not finish stripe (perjalan tanpa garis finish)

Mempunyai berbagai permasalahan yang kompleks dan rumit, bertabur akan onak dan duri, dan bukan perjalan yang singkat untuk ditempuh melainkan perjalanan tanpa adanya garis finis. Itulah dunia da’wah yang selama ini sangat kita kenal.

Dunia da’wah (akrab didengar dengan dunianya aktivis), dalam pencapaian tujuannya acap kali menemukan tanggul-tanggul yang dapat mengurangi laju dari kendaraan da’wah itu sendiri. Ironisnya, dengan sadar kita menganggap tanggul tersebut hanya merupakan sebuah kewajaran dalam dunia da’wah.

Perselisihan, ketegangan, dan berbagai macam perwujudannya telah mencoba menjadikan tali silaturahim yang berperan sebagai motor da’wah ini ikut terusik. Perpecahan antara aktivis tidak dapat dielakkan lagi, bahkan berbuntut pada pencabutan hak loyalitasnya terhadap dunia da’wah nan indah ini.

Miris memang!

“Lingkaran-lingkaran” yang seharusnya menambah mesrah ikatan tali kekeluargaan diantara mereka malah menjadi sumber api perpecahan kader da’wah masa depan, kader da’wah bangsa, kader-kader da’wah dunia, dan kader da’wah yang akan memiliki prestasi nan gemilang di lembah sejarah manusia.

Siapa yang lebih bertanggung jawab akan hal ini?

Apakah sang murobbi yang tak padan dan tidak memenuhi hak mutarobinya?

Atau memang murni karena konflik-konflik internal (perang dingin) antara anggota “lingkaran” itu sendiri tanpa sepengetahuan murobbinya?

Atau sebab adanya seniorisme (siapa yang dapat hidayah lebih awal dialah yang paling berhak di dengar), hal ini bisa menjadi tanggul pengghalang jalannya da’wah ini?

Jika betul semua hal ini mengakibatkan timbulnya riak-riak kecil di samudera da’wah ini. Maka, apa sebuah kewajaran jika hal-hal ini ikut lebur dan larut dalam formula da’wah kita?

Jangan sampai ghiroh dan ruh da’wah para kader dibunuh dengan divonis matinya mereka di tali gantungan (ketidak pedulian masing-masing kita) yang telah lama melilit di leher mereka (para tentara Allah masa depan tersebut).

Dia-lah Allah yang maha membolak-balikan hati kita! Cerita baru akan selesai ketika nyawa tak lagi dikandung badan. Maka buatlah cerita tentang kemenangan dakwah!



01 november 2005,
Salam cinta untuk adinda nesia,razak,dan mega

READ MORE - Peregrination whit not finish stripe (perjalan tanpa garis finish)

Transformasi Nilai-nilai Budaya Minangkabau

Minggu, 15 Juni 2008
Setuju atau tidak, proses transformasi nilai dan budaya itu dilakukan melalui proses pendidikan. Pendidikan merupakan sarana dalam pengembangan dan pemeliharaan kebudayaan. Melalui pendidikan dilakukan suatu aktifitas pentransformasian atau penurunan kebudayaan. Dengan sendirinya akan meretas segala bentuk ketidaktahuan terhadap nilai-nilai budaya. Masyarakat yang terdidik akan melahirkan masyarakat yang berbudi.

Bebicara tentang budaya, di Minangkabau tidak akan bisa lepas dari membicarakan adat, syarak dan seni. Pada kata adat mengandung kearifan, terkait habbluminannas. Karena adat merupakan strata yang menata hidup dan kehidupan suatu masyarakat dalam bingkai humanisasi atau kemanusiaan. Dengan adat masyarakat Minangkabau menjadi masyarakat yang memiliki landasan dan pijakan dalam mengeksisitensikan diri di tengah kehidupan bersosial.

Strata-strata adat manata dan memanajemen baik secara pribadi maupun secara kolektif di tengah kehidupan bermasyarakat. Sehingga adanya suatu rasa untuk menghargai keberadaan orang lain. Pengaplikasian ini salah satunya dengan menjalankan suatu aturan dalam berkomunukasi dan berinteraksi yang sopan. Dengan menggunakan kata yang empat:

Satu, kata mendatar yaitu bahasa yang dipilih dan digunakan untuk berkomunikasi dengan seusia. Dua, kata mendaki, merupakan pilihan kata yang digunakan dalam berkomunikasi dengan orang yang usianya lebih tinggi atau orang dihargai seperti kepada seorang guru. Tiga, kata menurun, penggunaan bahasa yang sopan dan penuh kasih sayang kepada seseorang yang usianya lebih kecil. Empat, kata melereng, digunakan dalam berkomunikasi antara orang yang saling menghargai. Seperti pilihan kata yang digunakan seorang mertua kepada menantunya.

Jika transformasi nilai-nilai ini berlaku dengan baik dalam masyarakat Minangkabau, diharap mampu teraplikasi dengan ideal. Tentunya tidak akan ada kesenjangan dan ketidakarifan dalam kehidupan masyarakat. Maka transformasi adat yang dilakukan oleh golongan tua (baca: guru) kepada generasi muda bisa dikatakan berhasil.

Sementara itu syarak menekankan kepada pengimplementasian hubungan yang bersifat vertikal habblumminallah. Syarak menata menusia dalam menjalankan agama. Sebagai bentuk suatu proses menuju jalan kebenaran yaitu jalan Allah. Kebenaran-kebenaran syarak ditarik dari kitabullah dan sunatullah. Pada proses pengaktualisasian nilai-nilai dari syarak pada dasarnya tidak ada kekuasaan manusia untuk melakukan suatu perubahan. Karena kebenaran dari syarak itu bersifat mutlak karena diturunkan lansung oleh Allah SWT.

Namun yang akan menjadi perhatian bagi masyarakat Minangkabau yaitu yang terkait dengan suatu aktifitas syarak yang sifatnya berjamaah. Seperi shalat berjamaah, penyelanggaraan jenazah dll. Tetapi syarak yang terkait dengan ritual keagaan yang bersifat pribadi, itu merupakan kewajiban dan tanggung jawab pribadi pula terhadap Ilahirobbi.

Di dalam melakukan proses transpormasi adat dan syarak di Minangkabau lebih banyak dilakukan di surau. Surau sebagai salah satu tempat yang menjadi pusat pendidikan di Minangkabau, memiliki suatu sistem yang tidak kaku. Sehingga di surau tidak hanya mempelajari agama (syarak) dan adat. Lebih dari itu, surau juga merupakan salah satu sarana tempat berkesenian. Para guru di surau tidak hanya menjadi seorang pengajar, namun ia adalah seorang pendidik.

Generasi muda di bentuk menjadi generasi islami yang sopan dan tangguh. Keislamian seorang murid diperoleh melalui proses dari pemerolehan pengetahuan tentang agama yang kemudian mampu di jiwanya dan diimplementasikan dalam keseharian.

Terkait dengan kata dan makna “tangguh” di atas, lahir dari pemikiran bahwa sebagai generasi Minangkabau terutama laki-laki dituntut mampu menguasai seni tradisi silat. Pemilihan kata tangguh bukan hanya karena silat merupakan suatu seni bela diri yang bersifat pertarungan fisik. Namun pada silat menyimpan suatu kearifan roh kelektif. Karena silat tidak hanya terkait tentang pergulatan realitas fisikli. Sebagai roh kolektif, silat merupakan seni bela diri yang mengutamakan pertahanan, perlindungan diri. Ia sebagai sarana dalam berhubungan dengan orang lain. Silat sangat menjunjung tinggi falsafah sosiokultural dan kolektif dalam bersopan santun.

Generasi muda (baca: murid) tidak hanya dilatih untuk mampu bersilat secara fisikli. Namun ia juga dibekali dengan dua silat lainnya yaitu bersilat lidah dan bersilat batin. Pada dasarnya katiga silat ini merupakan satu kesatuan yang utuh, ia merupakan lingkaran setan yang seharusnya tidak terputus. Dengan penguasaan dari ketiga silat inilah yang akan melahirkan adanya silaturrahmi dan saling menghargai di tengah masyarakat.

Dengan berfungsinya surau sebagai salah satu sarana transpormasi syarak dan seni di Minangkabau tradisional telah melahirkan generasi islami, berbudi dan tangguh. Hal ini tentunya merupakan suatu bentuk dari keberhasilan proses transpormasi pendidikan di Minangkabau tradisional. Keberhasilan yang ideal itu ternyata telah tertinggalkan jauh. Adanya perubahan-perubahan yang bersifat adopsi dan adaptif telah memudarkan pemahaman masyarakat terhadap adat, syarak dan seninya sendiri. Kondisi ini telah menggiring masyarakat untuk menghindar dari jati dirinya sendiri.

Memahami kondisi seperti ini, arifnya tentu tidak menyalahkan apa siapa. Karena di tengah masyarakat kita telah mengenal dengan adigium: “sakali aia gadang, sakali tapian barubah, nan aia ka hilia juo. Sakali balega gadang, sakali aturan batuka, nan adaik baitu juo.” Maksudnya adalah bahwa kita tidak boleh menutup mata atas akan terjadinya perubahan-perubahan dalam menjalankan kehidupan.

Karena banyaknya pengaruh-pengaruh dari luar. Namun betapapun besarnya pengaruh itu dan betapapun besarnya akibat yang ditimbulkan pengaruh itu. Seperti adanya perubahan dalam menjalankan suatu sistem. Namun jati diri Minangkabau tidak akan pernah pudar apalagi hilang.

Kondisi inilah sebenarnya yang sedang dihadapi masyarakat Minangkabau saat ini. Di mana adanya pergeseran-pergeseran pemahaman dari nilai-nilai kebudayaan yang berdampak kepada pergeseran aktualisasi kebudayaan. Tetapi adat Miangkabau yang ideal tidak akan pernah berubah “nan adaik Baitu juo”. Jadi, bagaimanapun kondisi keberbudayaannya masyarakat Minangkabau saat ini itu merupakan kesenjangan masyarakat dalam mengaplikasikan hidup berbudaya. Bukan karena adanya perubahan di dalam adat. Tetapi perubahan dalam menjalankannya.

Sebagai manusia yang berfikir, masyarakat Minangkabau tentu tidak akan bisa menghindar dari segala bentuk perubahan, karena manusia dan kebudayaan itu bersifat dinamis. Ketidak mampuan manyaring budaya (filterisasi kultural) yang ditawarkan oleh budaya luar lah yang menimbulkan degradasi dan kepudaran implementasi adat, syarak dan seni di Minangkabau.

Satu wacana yang sangat positif tentunya atas kegencaran masyarakat Minangkabau dalam mempertanyakan, mendiskusikan dalam seminar-seminar, mengkritik, bahkan mencaci (barangkali) dari keeksistensian budaya Minangkabau saat ini. Semua bentuk ekspresi dari gejolak-gejolak ini merupakan suatu bentuk adanya perhatian dan kepedulian atas kehidupan budaya Minangkabau tersebut dari masyarakatnya saat ini. Semakin banyak masyarakat yang memperhatikan keeksistensian budaya ini berati semakin adanya kegamangan masyarakat atas ketertimbunan budaya Minangkabau (syarak, adar, seni) atas moral modernisme yang negatif.

Dengan meminjam bahasanya Musa Ismail saya mencoba mengangkat batang tarandam dengan “memartabatkan” budaya Minangkabau. Kata dan makna “memertabatkan” bukan berarti selama ini budaya Minangkabau itu tidak bermartabat. Yang namanya konsep budaya Miangkabau akan tetap seperti apa adanya. Namun yang menjadi pemikiran di sini adalah sebagian besar masyarakat Minangkabau saat ini tidak lagi mengeksistensikan diri sepenuhnya dalam kancah budaya. Sehingga melahirkan suatu budaya baru yang merupakan hasil dari kolaborasi budaya yang tendensius dengan budaya modern.

Pada dasarnya kolaborasi ini kemudian melahirkan budaya kontemporer akan menjadi perfek bila masyarakat Minangkabau mampu memilih nilai-nilai yang positif tanpa menyingkirkan “ memarjinalkan” budaya sendiri. Dahan boleh berganti, asal akar tetap menghujam bumi. Maka itulah yang di sebut dengan jati diri.(Novi Yulia)
READ MORE - Transformasi Nilai-nilai Budaya Minangkabau

Yunani Kuno dan Minangkabau

Antara kehidupan Yunani Kuno dan Minangkabau, terdapat jarak waktu pemisah lebih dari duapuluh abad lamanya. Melihat pencapaian luar biasa dari bangsa Yunani Kuno, juga bukan hal yang setara untuk membandingkannya dengan Minangkabau yang hanyalah sebuah suku bangsa di antara duaratusan suku bangsa di Indonesia. Tetapi, jika melihat sejarah tokoh-tokoh pemikir terkemuka berikut warisan karya-karya pemikir dari kedua masyarakat ini, kita akan menemukan sesuatu yang relevan untuk dibandingkan.

Sama dengan sikap hidup individu orang Minangkabau, masyarakat Yunani Kuno menyukai kehidupan yang bebas dan merdeka. Selain itu, keduanya dikenal dengan masyarakat yang haus akan pengetahuan. Sebagian orang Yunani Kuno juga suka merantau. Namun, di sini mulai tampak perbedaan mereka dengan orang Minang.

Orang-orang Yunani Kuno pergi merantau karena sebagian besar tanah mereka gersang dan tandus. Dengan demikian, motif orang-orang Yunani Kuno pergi merantau semata-mata untuk ekonomi. Sementara bagi orang Minang, merantau bukan semata-mata untuk tujuan ekonomi, melainkan juga untuk belajar hidup, sebagaimana bisa kita lihat dari beberapa pepatah Minang.

Tanah di wilayah fisik-geografis orang Minang adalah tanah yang subur, karena memiliki lahan lapisan vulkanik yang luas dan memiliki bukit-bukit yang ditumbuhi tanaman lebat yang membuat bukit-bukit itu sebagai ”prasarana” irigasi alami bagi lahan pertanian di dataran rendah.

Dari sumber air yang berasal dari ruas pegunungan Bukit Barisan itu, bukan saja padi dan tanaman palawija yang tumbuh sehat, tetapi juga bermanfaat untuk membesarkan ternak hewan dan membudidayakan ikan air tawar. Bahkan, dengan sumber air yang datang dari pegunungan itu yang kemudian ditampung oleh Danau Maninjau dan Danau Singkarak, daerah ini menjadi tempat produksi listrik yang biaya produksinya hanya seperlima dari listrik yang diproduksi oleh sistem pembangkit batu bara ataupun gas.

Selain itu, sejalan dengan watak ekspansionis modal, beberapa sumber air alami di Sumbar itu pun menjadi sumber produksi air kemasan yang populer dengan nama air mineral.Di zaman Orde Baru, para penguasa pemerintahan di Sumbar, yang sering sekali mengklaim bertindak untuk dan atas nama masyarakat penganut kebudayaan Minangkabau, secara terang-terangan mengingkari kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan tadi. Mereka dengan tanpa beban mengatakan, ”Daerah kita miskin.

PAD kita kecil. Kita tidak punya minyak seperti Provinsi Riau atau deposit tambang lain seperti di Kalimantan atau Papua.” Ungkapan seperti ini tidak lain dimaksudkan untuk mengajak masyarakat mendukung Pemda meminta ”kemurahan hati” Pemerintah Pusat agar mengucurkan dana lebih besar untuk Sumbar. Karena itu pula, masyarakat Sumbar harus menunjukkan dukungan yang besar kepada Golkar yang ketika itu merupakan alat hegemoni kekuasaan Pemerintah Pusat.

Begitulah cara elite-elite politik Sumbar di zaman Orba memandang kekayaan alam Sumbar. Arti kekayaan alam pun dipersempit menjadi ketersediaan deposit tambang sambil menutup mata terhadap harta yang luar biasa nilai potensinya, seperti perbukitan, gunung-gunung, sungai-sungai, danau-danau dan pantai-pantai yang memberikan akses mudah untuk memanfaatkan sumber-sumber alam di atas dan di dalamnya.

Padahal, pengukuran kekayaan harus dimulai dengan kemudahan mendapatkan barang-barang dan jasa kebutuhan pokok, mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan? Kalau di daerah-daerah lain masyarakatnya membutuhkan usaha yang panjang dan modal lebih besar untuk mendapatkannya, sementara di Sumbar secara rata-rata lebih mudah, bukankah berarti itu kekayaan Sumbar?

Merantau yang bukan semata-mata karena dorongan kelangkaan kekayaan lokal bagi masyarakat Sumbar tadi seharusnya menambah modal untuk membuat masyarakat yang menetap di Sumbar lebih makmur sejahtera dibanding rata-rata daerah di Indonesia. Dengan kesejahteraan itu pula Sumbar seharusnya berkembang sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan karena bisa menjadi sumber insentif bagi para tokoh intelektualnya untuk terus berkarya di tanah asalnya sendiri seperti yang terjadi pada kaum intelektual Yunani Kuno.

Tetapi, di sinilah letak perbedaan lain antara Minangkabau dan Yunani Kuno. Kaum pemikir Yunani Kuno tidak perlu pergi merantau untuk menghasilkan karya-karya ilmu pengetahuan mereka. Sementara calon-calon intelektual Minang, harus merantau untuk menjadi pemikir kelas nasional atau internasional, baik untuk mendapatkan sumber-sumber pengetahuan baru maupun untuk menjadikan ilmunya bisa digunakan oleh masyarakat. Akibatnya, di Minangkabau sendiri tidak pernah lahir temuan-temuan penting atau gagasan-gagasan filosofis yang besar.

Sebaliknya, para pemikir Yunani Kuno cukup menyerap pengetahuan yang berasal dari Mesir Kuno dan Babylonia, yang dibawa para pedagang dari kedua negeri tersebut. Pengetahuan dari luar tersebut menjadi bahan untuk diolah dan dikembangkan lebih lanjut di tanah Yunani Kuno sendiri. Proses seperti itulah yang dilalui Anaximandros, Anaximenes, Phytagoras, Xenophanes, Anaxagoras, Gorcias, Socrates, Plato, Aristoteles dan sebagainya.

Proses seperti itulah pula yang membuat lahirnya beberapa pengetahuan baru di Yunani Kuno yang menjadi dasar pengembangan ilmu dan peradaban Eropa, bahkan dunia. Para pemikir Yunani Kuno tadi adalah peletak dasar nilai-nilai kearifan dan ilmu pengetahuan yang mempengaruhi kehidupan nyata masyarakat dunia berabad-abad hingga kini.

Dan, yang juga perlu dicatat, mereka bukan perantau yang menemukan nilai-nilai peradaban dan hukum-hukum ilmu pengetahuan di luar negeri leluhurnya, melainkan manusia-manusia yang membangkitkan masyarakat dan membangun monumen-monumen peradaban di negeri mereka sendiri yang gersang itu, sebelum karya-karya mereka itu menyebar pengaruhnya ke berbagai negeri luar.

Pertanyaan yang muncul dalam melihat ”proses menjadi” para pemikir Minang adalah, dengan karakter yang sama-sama suka berpikir dan suka hidup merdeka serta sama-sama haus pengetahuan dengan masyarakat Yunani Kuno, mengapa masyarakat Minang tidak melahirkan sebagian tokoh-tokoh intelektualnya di tanahnya sendiri?

Jawaban valid atas pertanyaan di atas tentu tidak mudah disodorkan secepatnya. Tetapi, melihat potret saat ini dan kondisi sebelumnya, jangan-jangan jawaban itu kita temukan bersamaan dengan perbedaan berikutnya antara masyarakat Yunani Kuno dan Minangkabau. Masyarakat Yunani Kuno memberikan penghormatan yang tinggi kepada para pemikir dengan menempatkan mereka hanya sedikit di bawah dewa-dewa mereka. Karya-karya mereka dan ucapan-ucapan mereka begitu didengar oleh masyarakat.

Sementara, di Minangkabau, bisa jadi para pemikir kurang dihormati dibanding para penguasa, politisi dan pengusaha, terlebih dengan mereka yang menyandang dua status dari dari tiga status itu sekaligus. Setidak-tidaknya suasana ini terasa sejak Orde Baru hingga sekarang, di mana sumber kebenaran lebih banyak dipercayakan kepada penguasa, politisi dan pengusaha, sebagaimana tampak dalam perlakuan-perlakuan yang diberikan pada acara seremonial, di media massa maupun di tempat-tempat umum. Mudah-mudahan jawaban sementara saya ini keliru. Mohon maaf lahir dan bathin!

Andrinof A Chaniago
*Penulis adalah Pengajar di Universitas Indonesia
READ MORE - Yunani Kuno dan Minangkabau

Membangun Stasiun Kenangan

Proses! Itulah yang sedang dihadapi oleh bangsa tercinta ini.

Kenapa butuh proses?

Sepenting apakah proses tersebut?

Kenap proses lebih penting dari sebuah hasil yang besar yang datang secara instan?

Banyak pakar berkomentar: “ini adalah proses menuju bangsa yang lebih bermartabat!” ; “mau tidak mau proses ini harus kita hadapi sebagai bangsa yang terus berkembang menyusul ketertinggalan kita sebagai bangsa besar selama ini, untuk menjadi Negara impian!”. Tapi bukan republic mimpi milik pakar komunikasi yaitu uda Efendi Gozali.

Dalam membangun Negara besar, ada tahapan-tahapan yang harus dilewati sebelum mendapatkan visual arsitektur keindahan Negara Indonesia yang diimpikan. Sama halnya dengan membangun sebuah struktur gedung yang sudah dirancang oleh para arsiteknya untuk dijadikan sebuah hasil karya yang indah. Bangunan tidak akan jadi sebuah bangunan meskipun semua yang dibutuhkan lengkap semuanya. Seperti: bahan, pekerja, biaya, dan sarana. Tapi tidak ada waktu untuk melaukan proses pembangunan. Maka semua yang ada tersebut akan menjadi terbuang percuma dan membusuk tidak bisa di gunakan. Begitu juga dengan sebuah bangsa yang kaya ini.

Dan setelah kita merebut dan memiliki waktu untuk melakukan proses kita juga harus bisa menentukan marhala marhala atau tahapan-tahapan dalam membangun, untuk mendapatkan hasil yang di inginkan dan dalam mengefisienkan waktu agar produktif. Hukum alam sangat dekat sekali dengan apa yang akan kita lakukan: sebelum berlari seseorang akan melakukan langkah pertama, sebelum menulis sebuah buku best seller pasti dimulai dengan menuliskan sebuah kata, sebelum mendapatkan gelar doctor atau professor seseorang pasti memulai dengan duduk di bangku sekolah dasar, dan sebelum menjadi tua orang pasti melewatkan masa-masa kecilnya. Nah begitu juga dalam membangun sebuah bangunan, apalagi membangun sebuah Negara. Semuanya dimulai dari yang paling bawah. Sebelum membangun pondasi, tanah harus dipadatkan terlebih dahulu. Setelah itu baru bisa dibangun pondasi. Sebelum membangun lantai dua, tentunya harus dibangun dulu lantai satu. Demikian seterusnya. Dimulai dari hal-hal yang paling kecil (bawah) kemudian terus berprose sampai pekerjaan finishing. Begitu juga ketika membangun sebuah Negara besar yang bernama Indonesia.

Terbayang bagi kita sebagai pagar bangsa (red: pemuda), kebesaran dan luasnya Indonesia dari sabang sampai merauke. Semuanya tidak akan mungkin langsung makmur menjadi bagian dari sebuah bangsa yang bermartabat dikemudian hari nya dalam waktu yang sikat. Tidak akan langsung makmur setelah teriakan reformasi oleh mahasiswa dan masyarakat buruh atau miskin kota tahun 1998 dulu, yang mengharapkan perubahan langsu setelah soeharto ‘KO’. Tidak. Sekali-kali tida.

Bukan berarti kita mencoba memancung semangat mahasiswa yang hoby dan gila aksi dijalan ibu kota untuk menuntut perubahan, atau juga semangat para buruh yang menuntut haknya, dan tidak juga 100% menyalahkan pihak eksekutif dan legislative Negara ini dalam usaha-usahanya dalam melakukan perubahan walau kecil dan tidak terasa bagi rakyat, dan juga tidak mendurhakai para abdi pendidikan yaitu guru-guru dan dosen yang selalu membina (mentarbiyah) daun muda negeri ini. Tapi hanya sedikit memberikan sentilan agar penghuni rumah (red. Indonesia) ini terbangun dari kasurnya yang empuk dan membesihkan rumahnya yang seperti kapal pecah.

Sudah dijelaskan, tidak mungkin kita membangun sebuah bangsa pencakar langit tetapi tidak dimulai dari bawah (pondasi/ keluarga) dan dari bawahnya (pemadatan tanah/ diri sendiri)! Struktur terkecil sebuah Negara adalah keluarag dan keluarga terdiri dari individu-individu yang berbagai karakter. Jadi benar kata kutipan nasehat dari Aa Gym, mulai lah dari diri sendiri! Ternyata memulai dari diri sendiri merupakan usaha yang paling besar dalam memabangun bangsa ini menjadi hasil karya yang fenomenal.

Jadikan setiap detik waktu dalam kehidupan kita merupakan bagian dari peran kita dalam melakukan proses hukum alam yang tidak dapat diganggu gugat! Sehingga setiap kita berhak menyatakan dirinya sebgai pahlawan sejati yang selalu memberikan makna dalam halte-halte kenangan dalam kehidupan sebagai seorang bangsa!

Kalo boleh jujur. Setiap individu dinegeri ini berpeluang menjadi sekuntum bunga yang memberikan keindahan pada setiap mata yang memandangnya, dengan warna-warni mahkota yang indah dan semerbak wanginya diantara hitamnya tanah yang bercampur lumpur yang tidak wangi. Benih-benih bunga tersebut sangatlah banyak, namun terkubur oleh tanah hitam. Diperlukan sedikit usaha untuk menyiramnya dan benih itupun pasti akan muncul kepermukaan kemudian menampakkan kuncupnya dan terus mengembang di taman bangsa yang tercinta ini.

Siapakah dari kita yang akan kembang dan menebarkan wanginya terlebih dahulu?
Saya akan jawab,”sayalah kembang yang pertama kali mewangikan taman surga dunia ini!”.

Rifki Birrul Waalidain
@ ruang kulia, gedung B,lantai 2. Jam 17.45, 2 mei 2008
“ikatlah ilmu dengan menuliskannya”
Rifki_payobadar@yahoo.com
READ MORE - Membangun Stasiun Kenangan

Tausyiah hari ini untuk kader da'wah

Asslamu'alaikum

semua orang tau betapa pentingnya waktu.
namun tidak semua orang pandai menata waktu yang cuma sedikit itu.
padahal hanya ada dua waktu yang tersedia: dzikrullah atau lalai.
bagi seorang muslim cara yang paling efektif untuk mengoptimalkan waktunya adalah dengan selalu berada dalam keadaan dzikrullah! karena setiap saat adalah modal untuk menggapai ridho Allah swt (QS. 57:16).

jadilah orang yang selalu mengisi pos-pos yang kosong! sehingga ketika kita harus meninggalkan para kader-kader pelanjut estafet dakwah ini pada suatu saat, mereka akan merasa kehilangan diri kita dan merindukan ide-ide dakwah kita! jangan sampai ada atau tidak adanya kita di tengah-tengah mereka sama saja bagi
mereka..

semangat semuanya......!
surga dan bidadari sudah tidak sabar menunggu kedatangan mu...!
allahuakabar..!
READ MORE - Tausyiah hari ini untuk kader da'wah

itulah cinta (that is love)

Selasa, 20 Januari 2009

Apakah telapak tangan kamu berkeringat, hati kamu
deg-degan, suara kamu nyangkut di dalam
tenggorokan kamu?
Hal itu bukanlah cinta, tapi suka.

Tangan kamu tidak dapat berhenti memegang dan
menyentuhnya?
Hal itu bukanlah cinta, tapi birahi.

Apakah kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya
kepada semua orang?
Hal itu bukanlah cinta, tapi kamu sedang mujur.

Apakah kamu menginginkannya karena kamu tahu dia
akan selalu disamping kamu?
Hal itu bukanlah cinta, tapi kesepian.

Apakah kamu masih bersama dia karena semua orang
menginginkannya?
Hal itu bukanlah cinta, tapi kesetiaan.

Apakah kamu menerima pernyataan cintanya karena
kamu tidak mau menyakiti hatinya?
Hal itu bukanlah cinta, tapi rasa kasihan.

Apakah kamu bersedia untuk memberikan semua yang
kamu sukai deminya?
Hal itu bukanlah cinta, tapi kemurahan hati.

TAPiiiiiiiiiiiiiiii i........ .....

Apakah kamu masih bersamanya karena campuran dari
rasa nyeri dan kegembiraan yang tidak dapat
digambarkan dan sangat membutakan?
Itulah cinta.

Apakah kamu masih menerima kesalahan mereka,
karena hal itu adalah bagian dari kepribadiannya?
Itulah cinta.

Apakah kamu tertarik pada orang lain tapi masih
bersamanya dengan setia?
Itulah cinta.

Apakah kamu rela memberikan hati kamu, kehidupan
kamu, dan kematian kamu?
Itulah cinta.

Apakah hati kamu tercabik bila dia sedih?
Itulah cinta.

Apakah kamu menangis untuk kepedihannya biarpun
dia cukup tegar?
Itulah cinta.

Apakah matanya melihat hati kamu yang
sesungguhnya, dan menyentuh jiwa kamu secara
dalam sekali sampai terasa nyeri?
Itulah cinta.

Sekarang, kalau kita tahu bahwa cinta itu
menyakitkan dan menyiksa kita sebegitu rupa, lalu
kenapa kita masih juga mencintai?

Mengapa hal ini adalah hal yang kita cari dan
ingini? Semua penyiksaan ini, sebuah kematian
terhadap ego dan kepribadian sendiri? Mengapa?
Semua ini disebabkan oleh.... CINTA

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikkan airmata dan masih peduli
terhadapnya.

Cinta yang sebenernya adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih
menunggunya dengan setia.

Cinta yang sebenernya adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu
masih bisa tersenyum dan berkata "aku turut berbahagia untukmu".

Apabila cinta tidak bertemu, bebaskan dirimu, biarkan hatimu kembali ke alam
bebas lagi, kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan cinta dan
kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati, kamu tidak perlu mati bersama
cinta itu.

READ MORE - itulah cinta (that is love)

Mendambakan rumah impian

Rumah!

Tempat yang sangat pribadi, dimana sipemiliknya bebas melakukan ekspresi semaunya. Sehingga apa saja yang terdapat di dalamnya sudah sewajarnya hanya diketahui oleh sipemilik atau sipenghuni! Mulai dari hal-hal yang kecil sampai yang paling besar. Mulai dari merek sabun mandi yang ada di kamar mandi sampai mobil BMW yang sedang terparkir di depan rumah dengan konsep minimalis namun harga maxis!

Dilapangan, rata-rata penghuni hanya memperhatikan apa saja yang ada di dalam rumah atau yang ada di sekitar rumah tapi sangat sedikit pemilik rumah yang mengerti atau paham bagaimana dan seberapa kuat struktur rumah tempat mereka tinggal dibangun. Jadi, segala sesuatu ada ilmunya. Tanpa tau bagaimana dan seberapa kuat struktur rumah dibangun maka kita tidak akan tahu kapan akan merekonstruksi ulang minimal merenovasi dan merawat tempat kita bernaung!


Jika sebuah rumah terdiri dari sekian banyak bahan yang disatu padukan sehingga mejadi satu kesatuan struktur rumah sehingga bisa berdiri kokoh dan stabil (Σv=0, Σh=0, Σm=0), lalu bagian struktur mana yang paling berperan agar bangunan tetap stabil? Dan jika rumah (Indonesia) terdiri dari sekian banyak suku, karakter, dan perbedaan umur (pemuda, anak-anak, orang tua) disatupadukan dengan kebhineka tunggal ika-an menjadi suatu tatanan struktur kenegaraan yang bermartabat hingga pada akhirnya bisa berdiri kokoh dan stabil, lalu bagian manakah yang paling berperan untuk menjaga agar struktur “bangunan” ini tetap stabil?
Sebelum dijawab…!

Ada sebuah analogi atau perumpamaan yang bisa sedikit membantu untuk menjawab pertanyaan: mana yang memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan masa depan bangsa ini? Jika suku cadang motor anda rusak, apa yang akan anda lakuakan? kalo anda boleh memilih pasti anda memilih mengganti dengan yang baru, jika yang rusak diperbaiki pasti ada sedikit keragu-raguan apakah bisa tahan lama atau tidak.

Jika genteng rumah anda bocor saya yakin anda akan lebih memilih menggantinya dengan yang baru dari pada menambal dengan lakban. Jika ban motor anda pecah pasti anda akan memilih untuk mengganti dengan yang baru (kalau anda punya uang banyak), sedangkan jika di tambal pasti meninggalkan bekas pada bagian yang ditambal dan umurnya tidak seawet yang baru.

Terakhir, jika cat rumah anda sudah kusam, pasti anda berusaha menutupinya dengan cat yang baru (mencat ulang), bukan malah mecuci dinding dengan air, plus sedikit diterjen barangkali?
Jawabanya adalah yang akan berperan banyak dalam menjaga kestabilan kondisi bangsa ini kedepan agar menjadi bangsa yang bermartabat dan disegani dunia adalah seorang pemuda bukan kakek-kakek.

Pemuda zaman sekarang, bukan pemuda kemaren.
Karena pemuda selalu mendapatkan peran penting dalam setiap skenario dan di setiap episode-episode atau lembaran-lembaran sejarah kebangkitan peradaban manusia. Sebut saja peristiwa tentang sumpah pemuda, kemudian pada masa penjajahan belanda dan berlanjut ketika detik-detik proklamasi di proklamirkan, berlanjut pada peristiwa malari kemudian reformasi. Setiap peristiwa selalu ada peran pemuda di dalamnya. Harapan stabilnya bangunan Indonesia ini di tangan pemudah sangatlah wajar dan secara logika sangat mudah diterima akal sehat. Karena pemimpin yang ada pada saat sekarang ini adalah pemuda yang baru datang hari kemaen (5 atau 10 tahun yang lalu), dan pemuda yang ada pada saat ini merupakan pemimpin yang menentukan nasib bangsa kedepannya.

Sekarang, pemuda yang manakah yang bisa mengemban tugas yang mulia tersebut? Yaitu pemuda yang memiliki karakter pemimpin yang kuat dan tertanam komitmen perubahan di dadanya. Dialah pemuda yang ditunggu-tunggu selama ini yang bisa menjadi penentu arah di masa depan, dengan bekal: pemahaman yang kuat; keikhlasan dalam bermetamorfosis dan memetamorfosis; amal nyata dalam segala hal; bersungguh-sungguh mengusung perubahan; pengorbanan yang selalu menjadi cirikhasnya dalam setiap aksinya; ta’at dan patuh terhadap peraturan, sehingga memberikan contoh kedisiplinan pada khalayak; bersikap tegar dalam menyelesaikan dan menghadapi perjalan jauh untuk menorehkan tinta emas dalam setiap halte-halte kehidupannya; totalitas dalam menggapai tujuan untuk menjadikan mimpi menjadi nyata; mengikat tali persaudaraan (ukhuwah) dalam kondisi apapun dan dengan siapa pun; dan terakhir percaya dengan sesama saudara yang selalu memperjuangkan dan selalu berusaha untuk menggapai negeri utopia (impian) ini.


10 karakter yang disebutkan diatas tidak akan lepas dari jiwa seorang intelektual muda yang progresif, kreatif, dan memiliki inovasi-inovasi baru dan tidak basi sekaligus populer dalam melakukan perubaha kearah yang lebih baik.
Konsep rumah dari sudut pandang sebuah bangsa. Merupakan tempat bernaungnya berbagai macam model dan karakter masyarakat di dalamnya. Mulai dari yang kaya sampai yang miskin, dari yang berpendidikan sampai yang buta huruf, dari yang putih sampai hitam, dari yang berpakaian rapih sampai yang telanjang, dari yang peduli sampai apatis, dan masih banyak lagi macamnya.

Siapapun diri kita, dan penghuni yang bagaimanakah diri kita ini, sedikit banyaknya harus mengerti dan paham bahwa bagian yang berperan dalam menjaga kekuatan bangunan rumah kita ini (Indonesia) adalah pemuda, sehingga kita tau apa yang harus kita lakukan dan kita tahu kapan harus merenovasinya dan merawatnya untuk menjaga agar tetap kuat menghadapi masa depan bangsa ini. Jadi setiap kita mempunya kewajiban untuk menjaga dan merawatnya dengan bijak. Sehingga kita nyaman untuk tinggal di dalam rumah (Indonesia) yang sangat kita sayangi ini.


Kesimpulannya, jika struktur terpenting dalam sebuah bangunan besar (yang bernama Indonesia) ini yaitu pemuda, dan dia sudah memiliki karekter yang kuat sebagai intelektual muda dan selalu siap siaga dalam menopang perubahan zaman yang diwariskan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya, maka berbahagialah! Karena ini merupakan langkah pertama yang sudah dilakukan untuk mengejar masa depan emas dan indonesia emas. Namun jika belum, ini adalah pekerjaan rumah (PR) kita bersama dan harus diselesaikan secepat mungkin dan dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya agar kita tidak selalu kitinggalan jauh, dan selalu terbawa euforia kejayaan kerajaan-kerajaan zaman dulu.


Kemudian singsingkanlah lengan baju Katakan pada setiap orang dengan tegas! Pemuda adalah pewaris negeri...! maka saya telah bersiap siaga dan karena saya (pemuda) yakin kapanpun saya siap menggiring bangsa ini menjadi rumah idaman setiap orang.

Wisma Al Kahfi, 3 mei 2008,
dini hari jam 01.08 wib

Rifki ”Biruul walidain”

”Untuk kedua orang tua yang berada jauh di negeri seberang,
Dan untuk adik-adik ku yang trcinta: nesia, razak, mega.”
READ MORE - Mendambakan rumah impian

"We will not go down"

Sabtu, 17 Januari 2009

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


download mp3
READ MORE - "We will not go down"

Bazar kultur expo...!

Kamis, 08 Januari 2009

Dunia maya telah berhasil meruntuhkan dinding penghalang, sekat2 antar ras, gender, kasta dan lain lain yang ada di dunia ini...! sehingga muncullah sebuah pegelaran big bazar cultur....!

Setiap orang bebas memilih kultur apa yang dia inginkan dan juga tidak ada yang menghalangi untuk melepaskan kembali kultur yang telah lama di pakainya...!

kultur kehidupan anak mesjid pun ikut di kotomi dan di kikir sampai habis...!
kehidupan yang notabene memiliki ruang-ruang pembatas antara yang halal dan yang haram, yang substansial dan non substansial, yang sawabit dan mutaghaiyirot.... semuanya seakan akan di telanjangi habis habisan oleh para pecinta cultur anak mesjid itu sendiri di dalam bazar multi cultur yang ada di dunia maya...!

Sapa menyapa diantara ikhwan dan akahwat yang di bolehkan.... ditambah lagi dengan obrolan-obrolan yang seharusnya tidak sewajarnya dilakukan ikhwan dan kahwat di dunia nyata itu di lakukan di dunia maya....! hmm.....?!

sekarang...
selamat menikmti big ivent "BAZAR MULTI KULTUR'....

(suasana pasar)
di obral.....2x
murah meriah......! buk silahkan pilih...! seribu.... seribu...
beli 2 sekaligus dapat tiga....!
READ MORE - Bazar kultur expo...!

Adat nan Ampek

Rabu, 07 Januari 2009

Menurut filusuf Adat Minangkabau DATUAK PADUKO ALAM –Kotan nan Ampek- Payakumbuh, yang disebut dengan Adat nan Ampek adalah:






1) NAGARI NAN AMPEK :
1. Pertama Banjar
2. Kedua Taratak
3. Ketiga Koto
4. Keempt Nagari

2) DAT NAN AMPEK :
1. Adat nan Sabana Adat
2. Adat nan Diadatkan
3. Adat nan Teradat
4. Adat Istiadat

3) HUKUM NAN AMPEK :
1. Hukum bajinah
2. Hukum Qarinah
3. Hukum Ijtihad
4. Hukum Ilmu

4) UNDANG-UNDANG NAN AMPEK :
1. Undang-Undang Luhak Rantau
2. Undang-Undang Pembentukan Nagari
3. Undang-Undang Dalam Nagari
4. Undang-Undang nan 20

Mereka yang tidak tau dengan keempat hal yang di atas, biasanya disindir dengan ucapan “Tidak Tahu Di Ampek” , yang diartikan tidak tahu adat atau Adab.

rifki ‘birrul walidain’ payobadar
7 januari 2009, Rabu
@ perpustakaan pusat UI, 17.00 WIB

READ MORE - Adat nan Ampek

Asas Tunggal PANCASILA jilid II, di berlakukan kembali....?

Selasa, 06 Januari 2009

Kondisi indonesia yang tentram setidaknya sudah meninabobokkan ide-ide dan sikap kritis mahasiswa terhadap lingkungan sekitar. simpel!

Kita ambil satu contoh pergerakan mahasiswa yang tampak luarnya (bukan internal organisasi) masih terlihat eksis dan solid yang berada di rata-rata hampir seluruh kampus Indonesia, yaitu LDK.

apa yang akan terjadi terhadap organisasi yang satu ini (yang berasaskan islam) ketika 2 tahun tau 3 tahun kedepan dihadapkan dengan kondisi diberlakukannya kembali asas tunggal (ASTUNG) pancasila di negeri ini.........?

apakah itu dengan naiknya kembali pemimpin tertinggi negara ini dari kalangan militer...!
bisa jadikan....? Apakah kondisi seperti ini terfikirkan oleh para aktivis LDK (Lembaga Dakwah Kampus)......! Atau mungkin saja akan lahir LDK 'dipo" dan LDK 'mpo' sebagaimana teman2 HMI yang notabene bentuk lain dari LDK jaman dulu......?

............................siapkah LDK............?????
READ MORE - Asas Tunggal PANCASILA jilid II, di berlakukan kembali....?